Tebu dan Masa Lalu


Jika saya melihat batang tebu, memory saya langsung berputar ke salah satu peristiwa masa kecilku, itu sebuah tragedi bagi temanku, pengalaman yang tidak pernah dia lupa sepanjang hayatnya.

Alkisah, temanku sebut saja namanya Bul, dia bersama beberapa rekan sepermainannya mencari botol dan barang rongsokan  di belakang rumah si Bul yang juga adalah kebun tokoh masyarakat yang sangat disegani di Desa Biroro. Botol dan barang rongsokan lainnya seperti penutup panci itu rencananya akan ditukarkan mainan di penjual kokek-kokek yang setia mengunjungi desa kami yang asri dan damai.

Bukannya botol dan penutup panci yang ditemukan, tapi serumpun pohon tebu yang menguning dan sangat menggiurkan, siang yang terik dan tenggorokan yang kering begitu menggoda mereka, Syaitan tidak perlu membuang tenaga yang banyak untuk membujuk rombongan bocah pencari penutup panci itu, beda peristiwa Adam dan Hawa yang tergiur buah khuldi. Mereka bersepakat untuk mengambil tebu itu secara berjamaah, dimakan pun secara berjamaah.


Lalu aksi kriminal mereka terendus oleh ayah si Bul, saat itu masih ada satu batang tebu yang belum mereka makan, tebu besar nan utuh. Karena merasa malu dan marah atas perbuatan Bul dan kawan-kawannya, akhirnya ayah Bul menghukum mereka, dan alat penghukumnya adalah batang tebu.

Alhasil tebu itu remuk di betis rombongan pencari penutup Panci itu, kasihan.

Saat itu saya tidak ikut dalam rombongan, entah kemana saya saat itu.

Setelah kejadian itu Bul taubat nasuha.


Oh iya Bul, kalau kamu membaca tulisan ini, saya cuma mau bilang, tadi pagi saya minum es tebu murni. Saya terbayang wajahnya yang sedang asik menggigit tebu.

Comments