Kau Kuat Kawan!


Guyuran hujan masih menggila menciptakan suasana dingin yang berbeda, butirannya jatuh di atap bangunan dan mencumbui pepohonan mensenyapkan deru suara kendaraan yang lalu lalang. Kopi memang pasangan yang pas untuk suasana seperti ini, namun mendengar ceritamu, sepertinya saya butuh minuman dingin.

Entahlah, ini kesekian kalinya saya hanya bisa melongo, kadang mengangguk, menggeleng lalu mendesah pelan. Mendengar ceritamu membuat saya malu untuk mengeluh dengan keadaanku sendiri, tak seberapa bebanku ini dibanding beban yang harus kau pikul.

"Hanya sama kamu saya bisa bercerita lepas seperti ini, banyak yang tidak saya ceritakan ke orang lain, banyak sekali," katamu sambil menerawang hujan. Saya menghargainya, walau saya kadang tidak memberi solusi yang layak untuk kasusmu yang menggunung.

Masalahmu pelik, andai saya di posisimu belum tentu saya setegar kamu yang masih duduk santai sambil menikmati teh susu saat ini. Karena saya yakin, Tuhan memberi ujian sesuai kadar kemampuan hambaNya, dan sepertinya kadar kemampuanmu memang layak untuk ujian seperti ini.

"Kalau otak dan kekuatanku, saya sudah tidak bisa pikul ini, tapi alhamdulillah saya masih merasa kuat, karena yakin pada Allah," ungkapmu lagi, sepertinya kata-katamu itu lebih dahsyat daripada bejibun kata motivasi yang pernah kudengar.

Lalu cerita pun mengalir, hujan masih terus mengguyur menahan kaki untuk bergeser walau malam semakin beranjak.

Saya semakin yakin, bahwa untuk urusan dunia lihatlah orang yang lebih susah di bawahmu, orang yang lebih punya banyak masalah dibanding dirimu, agar kau tidak lupa bersyukur atas keadaanmu.

"Apapun, selama kau tak melepaskan Allah dari semua gerakmu, saya yakin selalu ada jalan keluar," kataku yakin walau mungkin sebatas teori, sebatas kata manis orang-orang yang tak merasakan derita yang sama.

Biring Romang, 29 November

Comments