TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Pernikahan Barakah


Lelaki itu mencengkram lenganku, matanya terpana saat melihat seorang perempuan berjilbab lewat di depan kami, memang perempuan itulah yang kami tunggu di tempat ini.

"Subhanallah... subhanallah mantap," ucapnya dengan mata membulat, walaupun dia segera melempar pandangan, mungkin takut tertangkap basah.

Ini adalah proses nazhar atau melihat calon yang ingin dipinang, walaupun mereka berdua merasa sudah mantap dengan melihat foto, namun guru sang laki-laki yang menjadi penghubung enggan jika mereka belum bertemu, menurutnya foto bisa menipu, apalagi di zaman canggih ini, wajah hitam bisa dirubah jadi putih, yang tua bisa nampak muda. Maka terjadilah nazhar ini, saya dan istri menjadi fasilitator.

Kau tahu, hari itu lelaki yang selalu berpenampilan biasa-biasa saja itu nampak begitu berkilau dan tercium wangi, sisirannya begitu rapi, senyumnya sangat menawan. "Andaikan dari dulu kau seperti ini, mungkin saja kau sudah laku tanpa harus menunggu usiamu genap 30 tahun," responku, walau kutahu dia tidak memperhatikan, hati dan pandangnya hanya tertuju pada seseorang.

Setelah proses nazhar, lelaki kelahiran 1987 itu gelisah, bukan karena sang perempuan tidak sesuai dengan apa yang dia lihat di foto, namun karena dia merasa makin mantap dengan pilihannya, sedang dia ragu apakah si akhwat tetap ingin melanjutkan taaruf setelah proses nazhar dilakukan.

"Kira-kira dia mundur? kira-kira apa jawabannya?" Beberapa kali dia menelponku setelah proses nazhar itu, memang sang akhwat tidak langsung menjawab, dia masih diam, walaupun sebenarnya diam adalah jawaban. Namun tidak sah jika belum keluar jawaban dari mulutnya.
...

Besoknya saya menelpon lelaki yang berprofesi sebagai guru di SDIT Arrahmah itu, diseberang telpon terdengar riuh suara anak-anak, namun sepertinya detak jantungnya lebih berpacu daripada gegap gempita suara murid-muridnya.

"Kau sudah siap terima jawaban?" kataku setelah salam dan sedikit berbasa-basi.
"Asal kabar bagus," jawabnya, sedikit tertawa garing.
"Berarti kau belum siap," kataku lagi dengan nada datar, yang diseberang cuma menarik nafas. Mungkin air bening itu sudah berniat beranak pinak di pelupuk matanya.
"Jadi dia menolak?" Dia menyimpulkan sikapku dengan cepat, tanpa berpikir saya sedang mengerjainya. Yah masa penantian memang membuat orang sensitif.
"Ya" Jawabku, kemudian memberi jeda. Yang diseberang telepon mencoba tertawa, walau sepertinya tertawa rasa sakit. "Ya, katanya, dia siap lanjut," sambungku dengan tawa meledak.
"Serius ee? alhamdulillah, subhanallah, Allahu Akbar..." Pastilah dia sangat lega mendapat jawaban itu.
"Selanjutnya adalah lamaran, kita akan lihat apakah dia memang jodohmu atau cuma idamanmu," kataku menutup telepon.
...
Namanya Bahar, ikhwan yang terkenal dengan gerakan lamban itu akhirnya memilih satu nama diantara beberapa nama yang disodorkan kepadanya. Sepertinya dia adalah orang yang setia, dia memang bukan tipe lelaki jelalatan atau lelaki yang suka mengoleksi nama-nama akhwat dalam list telepon mereka, bukan tipe lelaki yang japri akhwat menanyakan khusus kapan kesiapan nikahnya, bukan lelaki yang suka menjadi dai khusus untuk akhwat, bukan lelaki yang sering membangunkan akhwat dengan tahajjud call nya.

"Kamu masih sering memandang foto calonmu?" tanyaku suatu hari pasca proses nazhar.

"Tidak pernah setelah proses nazhar, saya sudah sangat yakin," katanya dan saya yakin dia adalah orang jujur.
...
Alhamdulillah hari ini ijab qabul telah terucap, semoga keberkahan selalu menyertai perjalan rumah tangga kalian.

Cuaca di Sinjai sepertinya bersahabat dengan sepasang pengantin baru ini, karena saat ini lagi musim hujan.
....

No comments: