TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Pengalaman Pertama Menjadi Fasilitator Nazhar

Menu andalan green tea menemani proses nazhar
Sore ini saya bersama istri memfasilitasi dua orang yang mempunyai niat menikah untuk melakukan nazhar (melihat calon), sebenarnya sang lelaki sudah merasa mantap untuk menikah dengan sang perempuan hanya dengan melihat foto dan membaca biodatanya, sang akhwat juga sudah mengatakan "iya" untuk lanjut ke tahap taaruf (saling mengenal dengan niat menikah). Namun guru sang lelaki meminta supaya mereka melakukan nazhar sebelum lanjut ke tahap yang lebih serius. 

"Karena foto saja tidak cukup, apalagi sekarang, foto bisa menipu pandangan, kita tidak mau ada penyesalan di belakang hari, maka harus ada nazhar," kata sang guru ketika menghubungi saya via telepon, dia tidak bisa menyertai mutarabbinya (binaan) untuk melakukan nazhar karena ada amanah  yang lain. Maka saya mengiyakan untuk menjadi fasilitator.

Ini adalah pengalaman pertama saya bersama istri menjadi fasilitator bagi dua orang yang melakukan nazhar, kami memilih tempat yang nyaman sambil makan-makan, hehe biar fasilitatornya kenyang. Dulu waktu saya hendak menikah dengan istri, kami tidak melakukan nazhar, karena memang saya sudah mengenal wajahnya, dia pun seperti itu.

Kami memilih nazhar resmi, dengan cara mempertemukan mereka dan mereka sama-sama tahu bahwa ini adalah proses nazhar, karena ada nazhar yang tidak resmi, dimana nazhar dilakukan secara diam-diam, dimana yang menjadi objek nazhar tidak mengetahui dirinya sedang dilihat oleh pelaku nazhar.

"Lihat dengan baik-baik, amati," kataku kepada keduanya, walaupun mereka masih malu, hanya melirik, itupun segan.

"Sudah?" Kembali saya bertanya kepada pihak laki-laki setelah kami mengobrol sekira 1 jam diselingi makan-makan. Keduanya tidak saling melempar kata, saya sibuk bicara dengan si ikhwan yang sering curi pandang ke arah akhwat, sedang akhwat sibuk bicara dengan istri saya.

"Sudah, dan saya mantap untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya," bisiknya kepada saya, sepertinya dia sudah mantap sekali. Istri saya pun bertanya kepada sang akhwat apakah nazharnya sudah cukup atau bagaimana, sang akhwat mengatakan cukup walau belum memberi keputusan apakah lanjut atau tidak. Perempuan memang tidak secepat laki-laki dalam memutuskan.

Untuk nazhar ini Rasulullah memang menganjurkan bagi orang yang mau menikah, Diceritakan oleh al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau hendak melamar seorang wanita, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi saran kepadanya:

انْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

Lihat dulu calon istrimu, karena itu akan lebih bisa membuat kalian saling mencintai. (Ahmad 18154, Turmudzi 1110 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Adapun batasan tubuh yang boleh dilihat dalam proses nazhar ulama berbeda pendapat, Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan sebagian Hambali sepakat, bahwa bagian anggota badan yang boleh dinazhar ketika lelaki melamar adalah wajah dan telapak tangan (termasuk punggungnya), sampai ke pergelangan. Wajah untuk menilai kecantikan, sementara telapat tangan untuk menilai kesuburan badan.

Sementara Hanafiyah dalam sebagian riwayat membolehkan melihat kaki, karena kaki dalam Madzhab Hanafiyah bukan aurat. Hambali membolehkan melihat bagian yang biasa nampak, seperti kepala (tanpa jilbab), leher, atau kaki. [al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 19/199].
....
Ternyata proses nazhar itu semakin memantapkan hati sang ikhwan untuk menikahi sang akhwat, namun dia juga punya perasaan was-was, jikalau sang akhwat mundur setelah proses nazhar. Entahlah!

Yang jelasnya sang ikhwan penasaran sampai tidak bisa tidur memikirkan jawaban sang akhwat.
....

No comments: