Untuk Penulis Inspiratif di Sekitarku

Pagi ini ditemani secangkir kopi hitam, saya ingin bercerita tentang beberapa penulis yang saya kenal, dan mereka pun mengenalku, maka saya tidak akan bercerita tentang Taufik Ismail dengan mantra sastranya, atau Rhenald Kasali dengan motivasi dan ide-idenya.

Nama pertama yang saya sebut adalah Ustad Surya Darma, orang yang selalu saya intai Facebooknya, yang selalu saya tunggu tulisan panjang dalam statusnya, ada ilmu baru setelah membaca tulisannya, walaupun kadang materinya berat namun tetap menyenangkan. Beliau kaya ilmu, tulisannya bisa bercerita tentang sejarah, filsafat, politik, soulmate dan tentunya sastra. Sastranya indah seperti tulisan dalam status Ustad Surya yang berjudul Semesta Hati. :-), tulisan beliau bisa membuatmu merasa heroik, bisa pula membuatmu merah merona :-).

Selanjutnya adalah seorang penulis buku kumpulan cerpen Kupu-Kupu Rani, dia juga pencipta cerita Cupiderman 3G dan makin berkilau lewat Lontara Rindu. Dia adalah S. Gegge Mappanggewa. Sebenarnya saya tertipu ketika pertama membaca tulisannya, saya mengira penulisnya adalah remaja belasan tahun, tapi pas bertemu saya harus beristigfar karena telah berprasangka buruk. Kupu-Kupu Rani telah menua. Haha. Saya suka kata-kata bermajas kak Gegge, membaca tulisannya ibarat refleksi, menghilangkan penat.

Selanjutnya tulisan  seorang bunda pecinta kopi, berawal dari kopi Toraja pada Lovely Desember kemudian berlanjut kopi radix campur durian. Dialah Bunda Rahmi, Tulisan bunda bak gado-gado yang bumbunya pecelnya pas, kenapa gado-gado? Bunda bisa menulis opini, puisi atau sekedar catatan kecil yang terkenal lewat hashtag #InspirasiBunda. Dan yang pastinya bunda suka merangkai kata cinta buat lelaki yang disebutnya "my love". Tulisan bunda perpaduan antara cinta, ketegasan, kecerdasan dan seni.

Pun seorang lelaki kurus berkacamata, dia ahli merangkai kata dalam tema ukhuwah, tulisannya sangat ngena di hati. Dialah kak Jumadil.

Lalu saya dipertemukan dengan tiga  orang unik bin aneh di sebuah perkumpulan bernama Mecen. Mereka adalah Rezky Novrida atau akrab dipanggil Ekay, walaupun sebenarnya itu hanya singkatan, tidak sesuai nama di kartu mahasiswanya yang hampir menemui ajal itu, Ekay dengan gaya tulisan ceplas ceplos ibarat ibarat ibu kos yang menagih uang kosan. tulisannya mengalir begitu saja tapi asyik dibaca, ini tulisan tanpa make up sastra. Selanjutnya Seorang gadis yang bernama pena Azure Azalea, saya mengenalnya sebagai seorang penulis dan pembaca puisi, sajak-sajak azalea akan mengajakmu berpikir bahwa selain indah, sastra juga sulit dimengerti. Orang ketiga dan menurutku paling heboh adalah Muslih, bibirnya hemat bicara tapi jemarinya lincah menulis, Muslih adalah penulis gaya hiperbola yang saya tahu setelah Raditya Dika. 

Selanjutnya sahabat kesayangan saya yang pernah melanglang buana, tak jarang khuruj 40 hari. Walaupun orangnya terlihat keras namun tulisannya bak sutera. Dia suka melow, sepertinya mood menulisnya hadir ketika negara api menyerang. Dialah Wawan Karuniawan. Sesekali jika hatimu sedang mengeras, atau jiwamu sedang meledak, bacalah goresannya.

Dan terima kasih kepada orang-orang yang telah mengenalkanku dunia kepenulisan, jasa kak Mao, k Lilis yang setia menggembleng sejak tulisan masih berantakan. Kak Marini, kak Niyar, kak Dewi yang telaten membimbing pada masa-masa awal. Ada kak Yanuardi, kak Hamran, kak Fahrul, Nendeng, Asra, Bulqia Mas'ud, Uswatun Hasanah dan aktivis pena FLP Sulsel lainnya, belajar banyak dari mereka.

Terakhir, sahabat yang tidak suka gaya tulisan saya  yang terlalu aduhai itu, namun saya suka intip web nya, membaca tulisannya, dan selamat atas tulisan pertama yang dimuat di koran amanah. Dialah Agus Haruna

Allah bersumpah atas nama pena, nun wal qalami wa maa yasturun, maka yakin ada kekuatan perubahan dalam setiap tulisan.

Comments