TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Sentuhan Dakwah Lelaki Berjubah Putih

Saya menghentikan laju motor ketika melewati Taman Makam Pahlawan di Panaikang, ada pemandangan menarik di sekitar pemakaman tersebut, tentunya bukan pemandangan pria yang memamerkan pahanya di pinggir jalan sambil berteriak genit menggoda, "omh singgah omh," dengan suara dihaluskan ditambah kedipan mata ala Sinchan.

Pemandangan yang menurutku menarik adalah para lelaki dengan pakaian jubah putih dan mengenakan serban, ketika melihatnya dari kejauhan saya sempat kaget dan berpikir, apakah yang sering mangkal di pemakaman ini telah berganti?

Para pria berjubah itu berjumlah sekitar 10 orang, mereka menyisir pekuburan dan menyapa yang ditemuinya dengan senyum ramah, kemudian mereka mengajaknya untuk rajin salat. Santun sekali! saya menikmati pemandangan ini dari pinggir jalan.

Yah, banyak orang yang menilai gerakan mereka tidak sesuai zaman, dakwah yang mereka jalankan menarik simpati objek dakwah, namun inilah mereka, mereka bisa berinteraksi dengan objek dakwah secara langsung, yang kebanyakan kita hanya bisa berkata dalam status sosial media.

Saya masih terpaku, para dai ini punya kepercayaan diri yang tinggi. Mungkin mereka bukanlah dai hebat di mimbar atau dai yang bertebaran di sosial media dengan berbagai status dakwahnya. Entah objek dakwah merasa tersentuh atau tidak, tapi saya bisa memetik pelajaran berharga, "Dalam dakwah, kau harus yakin kepada Allah bahwa Dialah yang memegang kendali hati manusia, kau hanya jembatan orang lain untuk menjemput hidayah, maka dalam dakwah, tidak semua orang harus menyetujui metode yang kau tempuh. Bergeraklah!"

Melihat mereka, ada embun sejuk yang menetes di hati, menyadari bahwa akan selalu ada yang menyampaikan kebenaran bahkan di tempat-tempat maksiat, dan kelak manusia tidak lagi beralasan di hadapan Rabbnya bahwa belum sampai kepadanya para penyeru kebenaran.

Metode dakwahmu boleh beragam, karena objek dakwah tidaklah seragam. Kau boleh berdakwah lewat tulisan tapi jangan menatap sinis mereka yang berdakwah lewat petikan gitar dan syair lagu, bukankah menulis sambil mendengarkan lagu biasanya memperlancar ide tulisan. Kau boleh berdakwah lewat mimbar-mimbar tapi jangan meremehkan mereka yang berdakwah lewat parlemen. Jangan pernah merasa benar sendiri dengan teori yang kita pegang, karena boleh jadi itulah kesombongan yang menghalangi kita jadi pemenang.

Akhirnya lelaki berjubah itu meninggalkan taman makam pahlawan dengan berjalan kaki, meninggalkan seorang laki-laki memakai rok mini yang memandangi punggung mereka tanpa berkedip. Saya berbisik, Jika itu tetesan hidayah, maka jemputlah.

Para dai adalah jemari yang bercelah, akan utuh jika jemari saling bersatu.

No comments: