TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Jalak Assalamualaikum dan Beo Bersyahadat

Sekitar satu minggu yang lalu saya mendapat kabar lewat telegram dari seorang saudara, katanya dia lagi bahagia dan terpesona karena burung jalak peliharaannya bisa mengucapkan Assalamualaikum layaknya manusia. Saya juga senang mendengarnya, karena saya salah satu mentornya. 

Ini dia hasilnya, mari jawab salam si Jalak di detik 15, 25 dan 32. https://youtu.be/E-ClHy45LBY

Saya mengakui bahwa saudara saya itu adalah sosok telaten, tiap hari dia meluangkan waktunya untuk bercengkrama dengan si jalak, selain mengajarinya berbicara, si Jalak juga dilatih ramah kamera. Butuh sekitar tujuh bulan untuk mengajari jalak berbicara, bak Burung Beo, Jalak pun bisa meniru suara manusia.

Bermula pada Sepember 2015 lalu ketika saudara saya menemukan 3 ekor bayi burung jalak yang tergeletak tak berdaya di semak-semak, diapun memutuskan untuk "mengadopsi" si jalak bersaudara, diberilah nama Al, El dan Dul seperti nama anak Ahmad Dhani :-). Maka sejak saat itu dia menjadi single parent bagi ketiga jalak itu. Tiap hari jalak dimandikan dan makanannya pun makanan burung berkualitas. Dia sangat mencintai si jalak, bukan hanya tubuh si jalak yang dijaga agar tidak sakit, tapi juga hatinya. Hehe

Belajar dari si jalak,  kebaikan harus dibiasakan dan dilatih. Sahabat dan lingkungan yang baik adalah faktor sangat berpengaruh bagi kebiasaan baik itu. Saya pernah mendengar joke tentang beo yang tinggal di area prostitusi, kata-katanya pun sejorok aktivitas ditempat itu.

Nabi berpesan bahwa sahabat yang baik ibarat penjual minyak wangi dan sahabat yang buruk ibarat seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wanginya , atau kau bisa membeli darinya, kalaupun tidak, kau tetap kecipratan wanginya. Sedang pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, kau tetap mendapat bau asapnya yang tidak sedap. 
...
Masih tentang burung peliharaan yang bisa berbicara, saya teringat sebuah cerita hikmah tentang seorang guru dan burung beonya. Sang Guru mengajar burung beonya untuk melafazkan syahadat dan kalimat-kalimat yang baik, alhasil burung beo sangat fasih melafazkannya, Sang Guru pun senang bukan kepalang.

Di akhir cerita, burung beo itu menemui ajalnya dengan tragis, burung yang pandai bersyahadat itu dimangsa kucing. Sang Guru sangat bersedih, bukan hanya karena burung beonya mati, tapi di akhir hayatnya ketika kucing memangsanya, beo tidak bersyahadat hanya berteriak layaknya burung biasa, padahal beo hafal syahadat dengan fasih. Dengan sedih Sang Guru berbisik lirih, "Semoga akhir hidup kita tidak seperti beo, semasa hidupnya lancar bersyahadat namun ketika menjemput kematiannya, dia tidak mampu mengucapkannya."

Tak peduli beo bersyahadat apa tidak, ketika beo menghembuskan nafas terakhir maka habislah perkaranya, dia tidak mempunyai tanggung jawab di akhirat. Berbeda dengan manusia, syahadat di akhir hayat adalah penentu di akhirat.
...

No comments: