TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Valentine Menggerogoti Hingga Anak SD

Seorang anak gadis bergeliat manja di depan ibunya di Terminal Mallengkeri, Makassar. Dari beberapa potongan percakapan antara anak dan ibu itu, saya tahu kalau gadis kecil itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya kelas 4.

"Ma, mintaka' uang," akhirnya setelah lama bermanja, anak itu mengungkapkan keinginannya.
"Mauko beli apa?" timpal sang ibu, tampangnya berubah dari ramah jadi datar.
"Mauka beli kado untuk valentine," jawab anaknya polos, nadanya sedikit merengek, masih bermanja.
"Owh cieh mau valentine," sang ibu berseri, entah karena apa. "Siapa mau kau kasi kado?" tambahnya.
"Temanku ma...," sang gadis kecil nampak tersenyum malu.
"Ada tommi temanmu laki-laki?" ibunya bertanya nada menggoda.
"Temanku betulan Maaa," gadis kecil itu masih bermanja, ada rona merah di pipinya.

Saya yang melihat adegan itu di depan mata langsung terkesijap, anak kecil ini mau merayakan valentine dengan berbagi kado dengan teman cowoknya, dan ibunya tidak keberatan. Budaya Valentine ini telah merasuk ke semua lini, bahkan untuk masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, ibu dan gadis kecil ini contohnya, sang ibu yang kesehariannya sebagai penjual di terminal inipun termakan budaya Valentine.

"Ma, apa bagus kado di'? Cokelat mo?" Sang anak bertanya sambil meminta saran.
"Jangan mako cokelat deh, mahal ki," protes sang ibu, "yang murahmo," lanjutnya sambil membetulkan posisi kerudungnya.
"Atau mobil-mobilku mo saja saya kasih," gadis kecil itu kembali berceloteh.
"Iya itumo, lebih hemat," timpal sang ibu.
"Yes..." sang anak berseru riang, wajahnya nampak bahagia.

Percakapan keduanya terhenti, gadis kecil kembali bermain dengan temannya, menceritakan "kebaikan" ibunya yang mengizinkannya berbagi kado valentine. Sedang sang ibu kembali konsentrasi pada jualannya.

Dan saya bertanya pada diri sendiri, apakah sudah sampai dakwah kepada mereka tentang rusaknya budaya valentine? Apakah dakwah para dai sudah menyentuh mereka? Dan buktinya saya juga tidak melakukan apa-apa. 

No comments: