Untuk Wanita yang Kita Cintai Tanpa Syarat

Nak...
Saat itu Subuh terasa mencekam, suasana syahdu yang biasa menyelimuti berganti rasa takut yang mengancam, erangan sakit bertalu-talu, bisikan doa menghiba, merengek penuh harap.

Nak...
Saat kami menanti detik-detik kelahiranmu, saat itu ayah merasa sangat dekat dengan Allah, dalam sujud penuh doa dan isak, memohon agar kau dan bunda sehat dan selamat. Karena untuk semua ikhtiar hanya Dia tempat berharap.

Dan bundamu, wanita luar biasa itu walau didera sakit selama dua hari, wajahnya terlihat gembira, dia tidak pernah mengeluh, semangatnya tidak pernah layu, bundamu berbisik di telinga ayah ketika rasa sakitnya mulai tak tertahan, "Sebentar lagi yang selama ini kita tunggu akan lahir," ada air bening menetes dari pelupuk matanya, namun bibirnya masih tersenyum.

Akhirnya pagi itu, ketika hujan masih mengganas suara tangisanmu pecah pertanda kau telah lahir ke dunia, rasa takut yang mencekam berganti kelegaan, air mata kembali tumpah, bukan karena takut tapi karena syukur.
...
Nak...
Senyum bunda menghentak dan menyadarkan ayah, bahwa seorang ibu akan rela menahan sakit untuk anak-anaknya, untuk memperjuangkan satu nyawa seorang ibu harus siap mengorbankan satu nyawa, yaitu nyawanya.

Maka kelak, ketika kau bertumbuh dewasa dan kau merasa marah atau jengkel dengan bunda, ingatlah ketika dia menanggung semua sakit kau ketika melahirkanmu.

Nak...
Kita akan memberi cinta sepenuh hati buat seoarang wanita yang telah melahirkanmu, dialah bunda... Kita akan mencintainya tanpa syarat.


Sinjai, 11 Januari 2016.

Comments