Cermin Bening dari Zulaikha

Sore Itu masih terasa panas walau jam sudah menunjukkan pukul 17:00 wita, seorang teman masih mengoceh di depanku sambil sesekali meneguk kopi hitam kentalnya, saya lebih memilih menjadi pendengar yang setia. Suasana warkop masih ramai, asap rokok pun masih terbang kemana-mana mengganggu pernafasan, sudah 1 jam lebih sahabat saya ini curhat, tentang semua masalahnya. Dalam kondisi seperti ini jadilah pendengar, karena kadang sahabatmu hanya butuh pendengar bukan pemberi solusi.

“Saya merasa sangat kotor, apa masih ada ampunan untuk saya?” Ungkapnya risau, dikeluarkan rokok yang dia punya, dan tak lama kemudian dia memainkan asap di mulutnya, profesional.

“Saya juga kotor, tapi tidak putus harapan,” Kataku menimpali, tipe sahabatku ini memang tidak butuh diceramahi, dia lebih senang sharing.

“Kalau kau tau semua aibku, sepertinya kau tidak akan berteman lagi dengan saya,” lagi-lagi dia menyudutkan dirinya sendiri. Maka saya siap menendangnya dari sudut agar dia kembali ke tengah.

“Saya juga punya banyak aib, tapi Allah masih tutupi, andaikan Dia buka semuanya, yah... pasti saya malu.” Saya mencoba menyamakan kedudukan, kita sama-sama punya aib, tapi kita harus yakin Allah selalu membuka pintu taubat. “Semua orang punya aib masing-masing, dan Allah Maha Baik, sekarang Dia tidak membuka aib kita,” Saya keceplosan, sepertinya saya sudah mirip Das’ad Latif ketika berceramah.

“Tapi masa lalu saya kelam, sekarang masih kelam, masa depan saya bagaimana?” Sahabat saya masih ngeyel, entah aib apa yang dia maksud, saya tidak mencoba untuk mengusiknya, biar Tuhan dan dirinya saja yang tahu. Sepertinya saya mau menjitak orang yang sedang ngeyel di depan saya ini, hanya saja tidak sopan, dia lebih tua dari saya. Haha

Ah masa lalu, aib dan dosa-dosa itu menjadi urusan kita dengan Tuhan, kecuali dosa yang mengorbankan orang lain, tentu berbeda lagi ceritanya. Tidak usah mengutuk diri hingga terpuruk lantaran aib dan dosa masa lalu, Allah sangat memudahkan hambaNya yang ingin berubah, kau menyesal tanpa harus terpuruk dan kau bersungguh-sungguh tidak mengulangi.

Umar adalah contoh bening bagi kita semua, betapa jahat masa lalunya, dosa terbesar dia lakukan, dia seorang musyrik, bahkan dengan pedang terhunus dia datang untuk membunuh Rasulullah, dosa kecil? Bukan! Tapi ketika hidayah itu datang, dia menjadi bintang bersinar terang di kalangan orang beriman, dia pahlawan, bahkan jadi khalifah dan saat dia meninggal, ia dikuburkan di samping kubur Rasulullah. Andai... Umar dinilai dari masa lalunya, tentunya tidak ada harapan untuknya di masa depan.

Zulaikha juga menjadi sejarah yang tidak terbantahkan, sekeji apapun perbuatanmu dahulu akan selalu ada cara menjadi baik bagi mereka yang berusaha, Zulaikha berbuat keji dengan menjebak seorang Nabi untuk berzina, ini perbuatan rendah bagi Zulaikha yang jatuh cinta, dia ingin merengkuh Yusuf dengan raganya. Namun ketika hidayah datang, Zulaikha bertaubat dan lihatlah akhir cerita Yusuf dan Zulaikha... Mereka bersatu dalam keberkahan.

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari kisah Yusuf dan Zulaikha adalah bagi seorang yang sedang jatuh cinta, mengajak orang yang dicintai untuk bermaksiat adalah perbuatan rendahan yang akan menjauhkan kita dari barakah, Zulaikah mengalami hal tersebut, Yusuf menjauh dan tidak bisa dia rengkuh, tapi ketika Zulaikha taubat dan mengejar cinta Allah, pasrah kepadaNya, ternyata Allah mendatangkan Yusuf kepadanya. Bukan hanya dalam percintaan, dalam persahabatan kisah Yusuf dan Zulaikha pun berlaku, ketika ukhuwah tidak diikat dengan iman, maka tidak ada keberkahan.

“Jika saya ajak kau bermaksiat, maka saya yakin keberkahan ukhuwah kita hilang, maka harus saling menjaga dalam ketaatan, makanya saya selalu bertanya apakah kau sudah shalat atau belum, karena bagi saya, jika iman salah satu dari kita rombeng, maka ukhuwah kita pun rombeng, dan mungkin saya yang selalu rombeng,” Kataku, dia terlihat serius.
 
“Jadi saya harus bagaimana?”

“Jangan putus asa, tetap nyalakan harapan, dan kata Mario Teguh, jika kau hanya menghormati orang yang suci dan tidak punya kekurangan, maka kau tidak akan menghormati siapapun, termasuk dirimu sendiri,” kataku lagi, secangkir kopi di depanku sudah ludes.

“Iya saya mengerti...” Dia mengangguk pelan, dan menjelang magrib obrolan kami selesai.

Kesimpulannya, jangan menghujat seseorang karena masa lalunya kelam, karena kita tidak tau akhir hidup kita seperti apa. Jagalah orang yang kalian sayangi dalam kebaikan, doakan mereka diliputi keberkahan, karena kebaikan selalu terbalas dengan kabaikan. Bukan begitu?


Comments