Mari Nikmati "PKS Rasa Jepang"

Desaign by Mustain Ruddin
"PKS Rasa Jepang" pesan pribadi dikirim oleh seorang teman via bbm menanggapi kepengurusan baru Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masa khidmah 2015 - 2020.



Yah! Shahibul Iman ditetapkan jadi presiden PKS yang baru menggantikan Anis Matta. Keputusan itu mengejutkan banyak orang, pasalnya terkesan senyap.

Saya tergelitik dengan komentar teman tentang PKS rasa Jepang itu, memang Shahibul Iman meraih gelar pendidikannya mulai dari S1-S3 di negeri Doraemon tersebut. 

Pada tahun 1987 – 1988  Shahibul Iman Kursus Bahasa Jepang di Center for Foreign Language Studies, Takushoku University, Tokyo. 
1992 : Bachelor of Engineering dari Waseda University, Tokyo.
1994 : Master of Engineering dari Takushoku University, Tokyo.
2004 : Ph.D. dari Graduate School of Knowledge Science, Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST).

Sebenarnya sebelum menempuh pendidikan di Jepang, Shahibul Iman sempat kuliah di IPB sampai Tingkat 2 dan kursus dasar bahasa Jepang di Jakarta selama 6 bulan. Dan hebatnya lagi semua jenjang pendidikan di Jepang merupakan program beasiswa.

Maka wajar saja teman saya mengatakan PKS rasa Jepang. Istrinya, Uswindraningsih Titus juga lulusan Niigata University, Japan. 

Saya membalas komentar PKS Rasa Jepang dengan "mungkin setelah ini, saya akan lebih disiplin. Hehe"

Karena bagi saya pribadi, semua presiden PKS punya keunikan tersendiri dari masa ke masa. Sejak berdiri sejak 1998 dan bernama Partai Keadilan, partai ini tidak terpecah seperti kebanyakan partai lain.

Di usia PKS yang ke 17, Shahibul Iman adalah presiden ke enam. Dimulai dari Nur Mahmudi Ismail, Hidayat Nur Wahid, Tifatul Sembiring, Lutfi Hasan Ishaq, Anis Matta dan Shahibul Iman.
.....
"Bagus tawwa PKS, nda ada ancol, nda ada Bali, nda ada mobilisasi suara dr pengurus daerah, nda ada money politic," komentar lanjutan dari teman.


Selain itu, terpilihnya Shahibul Iman sebagai presiden baru itu membuktikan PKS punya stock kepemimpinan yang banyak dan pola kaderisasi yang bagus. Presidennya selalu berganti dari waktu ke waktu, memberi ruang bagi kader yang potensial untuk berkarya, tidak seperti beberapa partai yang ketua umumnya tidak berganti. Bahkan partai yang sudah berumur tua sekalipun ketua umumnya masih itu-itu saja, katanya mereka simbol pemersatu. Tidak usah saya sebutkan partainya.

Dan kader PKS sejak awal sudah diwanti-wanti, dalam berpartai tidak boleh mengidolakan figur terlalu berlebihan, maka siapapun yang terpilih jadi presiden maka kader PKS dimanapun berapa akan menerima dengan hati lapang.

Maka selamat menikmati PKS rasa Jepang itu, walaupun rasa Jepang tapi jangan ragukan nasionalismenya, tetap berkarya untuk negeri dalam bingkai Cinta, Kerja dan harmoni.



Comments