TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Catatan Pilkades Sinjai

Nasib naas harus dialami oleh Nasaruddin (19) yang meregang nyawa karena diparangi oleh tetangganya sendiri, Taufik (40), terlebih lagi kasus pembunuhan itu diakibatkan perbedaan dukungan saat pilkades serentak di Sinjai pekan lalu.

Pekan lalu, tepatnya Rabu 27 Mei Kabupaten Sinjai menggelar pemilihan kepala desa di 52 Desa, warga Sinjai memang antusias mengikuti pemilihan tersebut, terkait antusiasme warga Sinjai, saya dan puluhan bahkan ratusan warga Sinjai yang tinggal di Makassar turut pulang kampung untuk mengikuti pemilihan.

Ada aroma berbeda pada pilkades di Sinjai periode ini, kali ini aroma persaingan itu sangat terasa, di setiap lorong dan jalan-jalan, warga ramai menjaga basis masing-masing, menjaga dari serangan fajar para kompetitor, namun adapula warga yang memang sengaja menunggu serangan fajar, wah! Serangan fajar tidak hanya berlaku pada saat pemilihan kepala daerah dan legislatif.

Pemilihan kepala desa sepertinya memang lebih menyita perhatian warga Sinjai daripada pemilihan presiden kemarin, konflik antar warga juga lebih terasa, mungkin karena calon yang bertarung adalah sekampung bahkan tetangga mereka sendiri. 

Konflik antara pendukung calon kepala desa di beberapa tempat memang beberapa kali memanas, jika hanya saling singgung itu menjadi hal yang lumrah, karena itu terjadi hampir di semua persaingan, menjagokan idola masing-masing itu manusiawi. Hanya saja mungkin Taufik saat itu terlalu sensitif tidak menerima acungan satu jari dari Nasaruddin yang berbuntut pembunuhan.

Ah miris, tragis! Selain kasus yang terjadi di Sinjai Tengah, di Sinjai Selatan suasana sempat memanas, tepatnya di Desa Aska, aksi saling lempar terjadi di TPS antar pendukung calon kepala desa, selain itu kericuhan juga terjadi di Desa Pasimarannu, pendukung mengamuk karena calonnya kalah dalam pilkades.

Yang perlu digaris bahwa bahwa pelaksansan pilkades di Sinjai yang hanya menyiapkan 1 TPS perdesa membuat proses pemilihan berlangsung lama, sebabnya warga harus antri lama menunggu giliran. Bayangkan saja, ada desa yang wajib pilihnya mencapai 3000 orang, sangat tidak efektif. Baiknya, ada beberapa TPS di setiap desa bagi yang wajib pilihnya lebih dari 1000 orang.

Ada yang unik dari pemilihan kepala desa di Sinjai, calon yang bertarung dipajang di TPS, setiap kali warga selesai memilih, mereka bisa bersalaman dengan calon kadesnya, bukan hanya saat pemilihan tapi juga saat perhitungan suara, jadi bisa dirasakan bagaimana serunya perhitungan itu berlangsung. Tapi untuk pemilihan kali ini di Desa Biroro, calon hanya berada di TPS sepanjang pemungutan suara berlangsung, saat penghitungan suara mereka tidak berada di tempat, berbeda dengan pemilihan sebelumnya.

Semoga tidak ada lagi perpecahan di Sinjai gara-gara pilkades, cukuplah kasus Nasaruddin menjadi pelajaran paling tragis dalam sejarah pilkades Sinjai.

No comments: