Untuk Sebuah Nama yang Disebut di Depan Baitullah


Saya semakin yakin bahwa lelaki romantis bukan dia yang menggenggam erat tangan perempuan yang ia cintai sembari menatap mesra dan membuainya dengan rayuan gombal, tapi lelaki romantis dia yang menghiba dalam doa dan beraksi dengan mendatangi orang tua sang perempuan untuk menyatakan niat baiknya, melamar!

Sederhana, ketika dirinya merasa yakin dengan satu nama, maka sahabatku ini menghiba dalam doa-doa semoga pilihannya memang baik menurut versi Tuhannya. Saya teringat saat dia menitip doa kepada seseorang yang melakukan umrah, doanya juga sederhana, dia hanya meminta jika nama itu memang baik untuknya semoga dipermudah segala urusannya.

"Ya Allah, jika Iffah memang baik untuk dunia akhiratnya, maka jodohkanlah dengan Agus," doa itu dilantunkan di depan Baitullah, doa itu sederhana namun saya yakin mampu menembus langit ketujuh dan merengek-merengek di kaki Arsy.

Saya menyertai tiap inchi kisah sahabatku ini, menyertai setiap dumba-dumbanya, kisah pencariannya dipenuhi teka teki, namun lewat istikharah dia menemukan kemantapan, lewat sujud panjang dia menemukan jawaban, lewat sharing dengan orang dekatnya dia mendapatkan dukungan. Karena ikhtiar bukan hanya lewat doa, maka saatnya melangkah, saatnya mencoba untuk satu nama yang diyakini baik untuk dunia akhiratnya. Sebelum meminta kepada orang tua sang perempuan, Agus terlebih dahulu meminta kepada Rabbnya, penggenggam hati semua manusia. Disinilah letak romantisnya!

Perasaannya saat itu sangat heroik, ada haru yang menyala di relung hatinya saat niat baiknya disambut dengan lampu hijau. "Jika ada kebaikan maka harus disegerakan, jangan ditunda-tunda," kira-kira seperti itu ikhtiar baiknya disambut, dan langkahnya pun sudah menemui satu titik tujuan.

Dalam pencariannya, saya menemukan pelajaran berharga, bahwa kekuatan doa itu luar biasa, saling mendoakan dalam doa-doa senyap dan terang-terangan. Walaupun kami tidak terlalu percaya diri bahwa doa kami akan bersambut, namun yang kami percaya bahwa Allah suka hamba yang selalu menghiba dalam doa.

Gus, saya tidak akan lupa saat hujan mulai mengganas dan kita berdoa di musholla kecil itu seusai dhuha,  atau saat kita buka puasa bersama, sesaat sebelum berbuka, kitapun kembali menitip harap, saat mustajab. Doa sederhana itu kembali terlantun, "Ya Rabb, Jika Iffah memang baik untuk dunia akhiratnya, maka pertemukanlah dalam keberkahan," doa yang diaminkan Agus dengan mata berbinar.

Hari ini doa dan ikhtiar itu menemui titik temunya, akad telah terucap menyibak pintu keberkahan, ini bukan akhir dari perjuangan kawan, namun ini adalah awal episode baru, dimana kau telah menemukan tulang rusuk yang selama ini dirahasiakan Tuhan.

Saya pernah membaca sebuah catatan yang menyatakan "kalimat paling romantis bagi seorang perempuan adalah akad nikah", kau telah mengucapkan kalimat itu, kau romantis kawan!

Kalimat itu romantis karena didalamnya ada keberanian dan tanggung jawab, kalimat itu tidak mudah diucapkan kecuali mereka yang betul-betul serius.

Dan semua terpana ketika Agus mengucapkan akad nikah, suaranya lantang dan tanpa keraguan, dalam satu tarikan nafas dia mampu mengucap akad nikah tanpa terbata. Kalimat sakral itupun merubah status Agus dan Iffah.

Semoga, pernikahanmu barakah, keluargamu Sakinah Mawaddah wa Rahmah, selalu ada cinta antara kalian dalam setiap helaan nafas. Barakallahu laka, wa baraka alaika, wa jama'a bainakumaa fii khair.


Yah! Agus telah menemui belahan jiwanya, sebuah nama yang disebut dalam doa di depan Baitullah. Iffah Ihsani!

Comments