Mata Cincin Rasulullah Terbuat dari Batu Akik?

Tren terbaru dan lagi naik daun bagi kalangan laki-laki Indonesia adalah fenomena batu akik, demam batu akik ini menyerang hampir semua kalangan, mulai dari tukang bentor sampai politisi senior, juga menyerang status lajang maupun yang sudah beristri.

Beragam motivasi para lelaki ini dalam memakai cincin, ada yang sekedar ikut tren supaya tampil keren, ada yang menggunakan sebagai jimat keberuntungan, anti bangkut, anti sial, namun adapula yang katanya mengikuti gaya Rasulullah yang juga memakai cincin dari batu habasyah. Benarkah?

Memakai cincin dengan alasan jimat keberuntungan tentunya menyalahi aqidah Islam bagi mereka yang muslim, cincin tidak dapat memberi mudharat dan manfaat, batu akik hanya sebiji batu yang takdirnya lebih berharga dibanding batu yang lain.

Nah yang ingin saya share saat ini adalah tentang cincin Rasulullah, bagi mereka yang menguatkan hoby cinta batu akiknya dengan berlandaskan mencontohi Rasulullah. 

Dikisahkan dalam sebuah hadits riyawat Ahmad, Bukhari dan Muslim tentang awal mula cincin Rasullah, Bermula ketika Rasulullah hendak menulis surat kepada Raja Kisra (persi), Kaisar (romawi), dan Najasyi (Ethiopia). Kemudian ada yang mengatakan, ’Mereka tidak mau menerima surat, kecuali jika ada stempelnya.’ Untuk alasan itulah Rasulullah membuat cincin dari perak, dan diukir tulisan Muhammad Rasulullah.

Cincin Rasulullah terbuat dari perak bukan emas, karena dalam ajaran Islam lelaki dilarang menggunakan emas. Nah untuk mata cincin Rasulullah sendiri ada perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan mata cincin Rasulullah terbuat dari perak, adapula yang mengatakan terbuat dari batu dari habasyah, semacam batu akik.

Anas bin Malik berkata "Cincin Nabi terbuat dari perak, dan mata cincinnya berasal dari Habasyah (ethiopia). (HR. Muslim, Tirmidzi)

Hadits kedua masih bersumber dari Anas bin Malik, ”Cincin Nabi dari perak, dan mata cincin juga dari bahan perak.” (HR. Bukhari, Nasai)

Di Mata cincin Rasulullah ada ukiran "Muhammad Rasulullah", kalimat tersebut dibagi dalam tiga baris, baris pertama "Muhammad", baris kedua "Rasul" baris ketiga "Allah", dan Rasulullah berpesan agar tidak ada yang mengukir cincinnya seperti ukiran tersebut. Cincin itu dipakai Rasulullah sebagai stempel, kemudian dilanjutkan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Pada zaman Utsman, cincin itu terjatuh ke sumur Arisy.

Lalu apakah mata cincin Rasulullah terbuat dari batu habasyah atau perak, berikut penjelasan para ulama.

Makna "mata cincinnya berasal dari Habasyah”

Para ulama berbeda pendapat tentang makna kalimat ini. Imam an-Nawawi menyebutkan beberapa pendapat ulama mengenai hal tersebut,

1. Mata cincinnya berupa batu dari Habasyah, berupa batu akik. Karena tambang batu akik ada di habasyah dan Yaman.

2. Warnanya seperti orang habasyah, yaitu berwarna hitam. Kata Ibn Abdil Bar, inilah pendapat yang lebih kuat.

3. Berdasarkan riwayat dari Anas yang menegaskan bahwa mata cincin Nabi  dari perak. Artinya, bukan batu akik.

4. Kedua makna di atas benar. Dalam arti, Rasulullah  terkadang memakai cincin yang matanya dari perak dan terkadang memakai cincin yang matanya batu akik. (Syarh Shahih Muslim, 14/71).


Al-Hafidz Ibn Hajjar juga menyebutkan beberapa kemungkinan yang lain,

1. Mata cincin beliau berupa batu dari habasyah

2. Mata cincinnya dari perak. Disebut dari Habasyah, karena cirinya. Bisa jadi ciri modelnya atau ciri ukirannya.
(Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 10/322)
......
Kesimpulannya, cincin bagi seorang laki-laki itu boleh, namun jika ingin mencontohi Nabi dalam memakai cincin maka ikutilah caranya, Nabi tidak disibukkan dengan aneka cincin beragam bentuk dan warna, apalagi mengoleksinya.

Ada hadits dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah mengambil cincin dan memakainya, lalu berkata, "Sejak hari ini saya disibukkan dengan cincin ini, orang-orang memperhatikannya dan kalian juga diperhatikan," lalu beliau membuangnya. (HR. Ahmad dan Nasai).

Ibnu Umar berkata, Rasulullah mempunyai cincin, lalu mata cincinnya ditaruh di bagian dalam tangannya, pada suatu hari beliau membuangnya, lalu para sahabat juga ikut membuang cincinnya, setelah itu beliau menggunakan cincin dari perak sebagai stempel, tapi beliau tidak memakainya," (Bukhari, Muslim, Ahmad dan Abu Dawud)

Semoga bermanfaat :-)

Comments