Rambu Solo, Persembahan Terakhir Bagi si Mayit


Saya sedikit terperanjat ketika mendengar penuturan Alexander tentang adat warga Toraja dalam acara kematian anggota keluarga mereka, butuh budget besar untuk pemakaman satu orang, mulai dari puluhan juta sampai milyaran rupiah.

“Maaf, bukannya ini pemborosan?” kataku sedikit menyela dengan nada pelan, Alexander tersenyum kecil.

“Bukan, bagi kami ini adalah penghormatan terakhir bagi jenazah, makanya kami all out untuk itu,” jawabnya, “ini adalah adat Tana Toraja, satu-satunya di dunia,” lanjut Alexander dengan nada mantap, saya mendengar sambil mengangguk.

Yah ini adalah rangkaian acara Rambu Solo, adat kematian warga Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan mengantar jenazah ke alam roh, yaitu kembali kepada leluhur mereka. Bagi keyakinan warga Toraja yang memegang teguh adat istiadat, orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal ketika seluruh prosesi upacara Rambu Solo telah dilaksanakan dengan tuntas. Jika belum, maka jenazah tersebut hanya dianggap sebagai orang sakit sehingga tetap diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, jenazah tetap diberi makan dan diajak untuk ngobrol.

Karena membutuhkan budget yang besar dan persiapan yang matang, pemakaman jenazah memakan waktu yang lama dari hari kematiannya, bisa berbulan-bulan bahkan sampai tahunan. Seperti acara Rambu Solo yang saya datangi saat ini, jarak waktu kematian dan pemakaman adalah delapan bulan. 

Puncak dari acara Rambu Solo dilaksanakan di lapangan khusus, di tempat itulah dibangun rumah panggung khas Toraja rumah yang terbuat dari bambu, uniknya rumah tersebut tidak menggunakan paku satupun, rumah itu dibuat khusus oleh anggota keluarga jenazah, rumah-rumah itu ditempati oleh keluarga jenazah untuk bermalam sampai acara pemakaman selesai. Jadilah acara pemakaman itu seperti sebuah pemukiman warga, ramai dan meriah.

Terdapat beberapa ritual dalam acara Rambu Solo seperti Ma’tudan Mebalun yaitu proses pembungkusan jasad, Ma’roto yaitu proses menghias peti jenazah dengan menggunakan benang emas dan benang perak, Ma’popengkalo Alang yaitu proses perarakan jasad yang telah dibungkus ke sebuah lumbung yang telah disediakan, Ma’palao yaitu proses perarakan jasad dari area rumah tongkonan ke tempat pemakaman yang disebut lakkian.

Selain ritual, Rambu Solo juga diwarnai oleh beberapa kesenian budaya Toraja, seperti perarakan kerbau yang akan menjadi hewan kurban, pertunjukan tarian adat antara lain Pa’badong dan Pa’randi, tidak ketinggalan pertunjukan adu kerbau sebelum kerbau tersebut dikurbankan, selanjutnya penyembelihan kerbau dan babi.

Kerbau dan babi adalah hewan kurban yang wajib ada pada acara Rambu Solo, bagi keyakinan warga Toraja kerbau adalah hewan suci, hewan tersebut akan mengantar arwah jenazah menuju puya, semakin banyak kerbau yang dikurbankan maka semakin cepat jenazah tiba di puya.

Namun kerbau yang dikurbankan bukan sembarang kerbau, disinilah unik dan “susah”nya. Kerbau yang dikurbankan haruslah Tedong Bonga (bule) belang, harga seekor kerbau ini mulai dari 20-50 juta per ekornya, namun adapula yang mencapai ratusan juta per ekor. Sedang untuk jumlah kerbau yang dikurbankan tergantung dari strata sosial warga Toraja, semakin tinggi strata sosial seseorang, maka semakin banyak kerbau dan babi yang harus dikurbankan. 
 
Menurut Alexander, bahwa untuk starata  keluarga menengah, biasanya menyembelih 7-12 kerbau ditambah babi sekitar 30-50 ekor, itu untuk satu anggota keluarga yang meninggal. Namun untuk keluarga bangsawan maka kerbau yang harus dikurbankan berkisar 25 – 150 ekor. Bisa dibayangkan berapa biaya yang dibutuhkan untuk memakamkan seorang warga Toraja?

Sebelum penyembelihan kerbau dilakukan, sebelumnya kerbau-kerbau tersebut akan diarak keliling kampung sebagai bentuk pengormatan, daging kerbau yang dikurbankan akan dibagi kepada warga yang membantu pelaksanaan Rambu Solo.

“Bagaimana jika yang meninggal dari kalangan tidak mampu?” tanyaku lagi pada Alexander.
 
“Acara ini wajib, jadi mereka mengusahakan sampai bisa melaksanakannya,” jawab lelaki sebayaku itu.

“Acaranya juga harus sebesar ini?”

“Tidak, bisa dalam bentuk kecil yang jelasnya semua proses harus dilaksanakan,” kata Alexander.

Saya mengedarkan pandangan, sejauh mata memandang terdapat puluhan rumah-rumah khas Toraja yang baru dibangun, dan setelah prosesi Rambu Solo selesai maka rumah tersebut akan dibongkar kembali, Juga ratusan keluarga yang datang melayat, juga ribuan tamu yang datang untuk melihat jenazah, semuanya dijamu untuk makan. Saya terhenyak, otakku menghitung angka-angka rupiah. Berapa besar budget untuk sekali pemakaman?

Saya hanya memperkirakan saja, untuk biaya Rambu Solo yang sekarang terpampang di depan mata sepertinya menelan biaya milyaran rupiah. Bagi saya itu mencekik, tapi bagi orang Toraja yang memegang adat itu adalah penghormatan terakhir kepada jenazah.

Dalam perjalan pulang, saya merenung… Tuhan, betapa mahal biaya kematian bagi warga Toraja.

Comments

Post a Comment