TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Stop Baku Bombe

Hadirnya film Bombe' yang digarap oleh insan kreatif Kota Daeng menjadi angin segar bagi dunia hiburan di Indonesia, film ini sangat layak ditonton jika dibandingkan film Indonesia Lainnya yang hanya mengejar rating dan mengabaikan aspek moral, semisal film horor Indonesia, cinta picisan dan komedi yang minus nilai moral. Film Bombe' merupakan besutan sutradara Syahrir Arsyad Dini alias Rere Art2tonic dan kawan-kawannya, bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Makassar.

Film ini bercerita tentang Makassar apa adanya, seperti yang sering diberitakan di media tentang Makassar yang akrab dengan tawuran antar warga atau antar mahasiswa dan polisi dalam unjuk rasa anarkis yang kerap terjadi. Kemarin unjuk rasa anarkis kembali terjadi, pun dengan tawuran antar warga yang memakan korban. Inilah yang diangkat dalam film berdurasi 100 menit itu, citra yang sudah melekat dengan Kota Daeng. Melalui adegan demi adegan yang diperlihatkan, film ini menyadarkan kita dampak dari permusuhan yang sering terjadi di Kota Daeng.

Diawali adegan dua geng anak sekolah dasar yang saling bermusuhan. Hampir setiap hari mereka berkelahi, peringatan dari guru dan orang tua tidak menyurutkan permusuhan mereka, adegan ini pun menyadarkan kita jika bibit permusuhan sebenarnya telah ada sejak kita kecil. Apalagi jika bibit itu ditumbuh suburkan dengan contoh negatif yang ada disekitar kita.

Permusuhan antara geng Kayla dan Aya seolah menjadi cermin bening bagi dunia pendidikan kita bahwa kekerasan telah menyusup kepada bibit generasi masa depan bahkan sebelum mereka memasuki usia baligh. Aksi ke enam anak kecil yang menjadi bintang dalam film tersebut dapat membuat kita merenung, bahwa permusuhan tidak pernah menguntungkan, karena tanpa teman kita bukan siapa-siapa.

Salah satu dampak kekerasan yang digambarkan dalam film ini adalah Makassar menjadi lengang tanpa penghuni, Rere berhasil membuat penonton merinding dengan adegan Makassar tanpa penghuni, menciptakan adegan jalan dan pemukiman yang sunyi, bukan hal mudah. Makassar terkenal dengan kota yang padat, bukan hanya penduduk, tapi juga kendaraan. Sebagaimana yang pernah diberitakan Jpnn bahwa sang sutradara harus bekerjasama dengan kepolisian untuk menutup jalanan selama beberapa jam. Hal ini untuk mendapatkan adegan yang benar-benar sunyi tanpa satu pun kendaraan yang melintas. Dalam film itu, diperlihatkan sepanjang jalan Jenderal Sudirman, Ratulangi, Urip Sumoharjo dan daerah sekitar Pantai Losari lengang tanpa kendaraan dan aktivitas warga, tidak ada kehidupan.

Film ini juga mengkritik media yang selama ini meliput kekerasan yang terjadi dengan gamblang, ekspose yang melebihi porsinya bahkan menayangkan dengan live kondisi yang terjadi membuat warga jadi resah, ini adalah kritikan buat tradisi media yang menjadikan bad news is good news.

Pesan moral dalam film ini sangat menarik dan tepat bagi kondisi bangsa saat ini, bukan hanya di Sulawesi Selatan tapi juga bagi seluruh pelosok nusantara termasuk para legislator yang katanya wakil rakyat itu. Kekerasan pernah ditunjukkan oleh politisi senayan dengan membanting meja dalam rapat paripurna, pun orang-orang berdasi itu saling lempar statemen yang bisa memicu perpecahan, kedua kubu di senayan pun saat ini masih baku bombe', saya pikir mereka harus menonton film ini. Baku bombe' yang terjadi antar wakil rakyat itu menimbulkan teror bagi masyarakat, sangat meresahkan. Stop baku bombe'! Indonesia tidak bisa dibangun hanya dengan tangan satu kubu sehebat apapun dia, persoalan di Indonesia juga tidak akan selesai hanya dengan kerja, kerja dan kerja, kita butuh keharmonisan, bergandeng tanganlah!

Yang menarik juga dalam film ini adalah seluruh logat yang digunakan adalah khas Makassar, jadi film ini menampilkan subtitle bahasa Indonesia. Akting ke enam anak dalam film itu kadang membuat kita terpingkal-pingkal kadang pula sesak. Memang akting mereka belum selihai artis cilik papan atas, namun untuk pemula itu bisa dimaklumi. 

Ilham Arif Sirajuddin, eks Walikota Makassar menjadi tokoh kunci. Ilham tetap bertahan di Kota Daeng saat semua warga memilih untuk hengkang, Ilham memilih berdiam diri di Mesjid Raya. Ada beberapa ikon Makassar yang menjadi lokasi pengambilan gambar diantaranya Mesjid Apung, Mesjid Raya, Karebosi, Rotterdam, Pantai Losari dan Balaikota. 

Walaupun menurut saya masih ada kekurangan dalam film ini dalam menggambarkan anarkisme yang terjadi, seolah anarkis itu murni kesalahan pihak yang bertikai saja, dalam hal ini saya tidak melihat adanya upaya dari pemerintah yang dilakukan dalam mencegah anarkis selain mengarahkan aparat. Yah itu dalam cerita filmnya, karena film ini sebenarnya adalah salah satu upaya Pemkot Makassar dalam melakukan sosialisasi anti anarkis.

Oh iya, yang menjadi pemandangan menakjubkan juga adalah Makassar Tetap Rantasa dalam film garapan Rere ini. Entah rantasa digambarkan karena Makassar tak berpenghuni ataupun karena Makassar memang masih rantasa.

Kritikan lain adalah terlalu kuat dan tidak masuk akal anak kecil seperti Nisa dan Kayla jalan kaki dari Ratulangi - Veteran - Kerung-Kerung - Urip Sumoharjo - Pelabuhan - lalu menginap di Popsa, dan terlalu kuat Seysa dan Aya menahan lapar dari siang-malam-siang tanpa pernah mengeluh lapar. 

Melihat kejanggalan itu saya bisa menebak endingnya tapi tidak usah menyebutkan secara gamblang disini, film ini recomended diantara semua film yang saat ini tayang di studio 21. Dan untuk mendapatkan tiket nonton anda harus cepat-cepat karena tiket selalu habis sejak tayang 6 November lalu. Bersiap untuk duduk bersebelahan dengan anak SD. Hehe

Selamat buat Rere dan kawan-kawan, terus berkarya.

3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Hehehe..sya brani bilang sejujur jujurnx klo sy ska dgn aya mw kh kmu jdi pcarku ?.

    ReplyDelete
  3. Spa shabat ato tmanx aya kasitahu yah klo akzan suka kmu aya

    ReplyDelete