TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Ketika Perempuan Berkerudung Cokelat Itu Tertidur di Bahuku

Ini adalah sepotong episode di sabtu kelabu ketika saya dalam perjalanan pulang ke kampung halaman, Sinjai. Saya memilih transportasi umum agar bisa rehat dalam perjalanan apalagi besoknya saya harus kembali lagi ke Makassar, mengendarai motor terlalu beresiko dan melelahkan. Disinilah kejadian itu bermula.

Salah satu resiko menggunakan mobil sewa ke kampung halaman adalah bercampur dengan penumpang lain, apalagi jika penumpangnya banyak dan sopirnya tidak pengertian. Saya bersama tiga penumpang lain duduk di jok belakang, ketiganya perempuan. Di jok tengah, duduk sepasang suami istri dan anaknya yang masih bayi serta dua penumpang lainnya, sedang bagian depan di samping sopir duduk seoarang ayah dan anak gadisnya.

Saya duduk paling pinggir sebelah kanan, tubuhku yang lumayan besar terhimpit. Tepat di sampingku seorang nenek kira-kira berusia 67 tahun. Awalnya saya merasa terusik dengan nenek di sebelah saya, ada bau tidak sedap yang sangat mengganggu indera penciuman. Boleh jadi bau itu dari pakaian si nenek, saat itu dia memadukan baju terusan berwarna biru muda dan kerudung cokelat tua, sepasang kakinya dihiasi sendal jepit warna-warni.

Bau tidak sedap itu makin terasa, dua penumpang lain di jok belakang sepertinya tidak peduli dengan bau itu, perempuan kurus kering disamping nenek sibuk ngemil kentang goreng, sedang yang satunya sibuk bercengkrama dengan ponselnya. Maka saya memutuskan untuk tidur dengan menutupkan jaket di wajah.

Memasuki Kota Jeneponto saya terbangun karena ada benda berat yang membebani bahu kiriku, saya melirik ke samping dan ternyata si nenek tertidur di bahuku, Jiah... Saya bergerak sedikit ke kanan namun sudah mentok, kulirik si nenek yang sudah keriput itu sepertinya tidurnya sangat nyenyak, ada dengkur halus yang terdengar dari mulutnya. Akhirnya saya mengalah.

Saya kembali mengingat pelajaran yang pernah saya pelajari di kampus, beberapa pendapat Imam Mazhab yang sangat keras soal bersentuhan antara laki-laki dan perempuan walau itu perempuan lanjut usia. Jangankan bersandar di bahu, berjabat tanganpun dilarang. Namun ada juga yang masih membolehkan jika kondisinya darurat.

Saya teringat ada sebuah riwayat dari Abu Bakar r.a. bahwa beliau pernah berjabat tangan dengan beberapa orang wanita tua, dan Abdullah bin Zubair mengambil pembantu wanita tua untuk merawatnya, maka wanita itu mengusapnya dengan tangannya dan membersihkan kepalanya dari kutu.

Untuk lansia yang sudah tidak punya gairah terhadap lawan jenis, Allah juga memberikan kelonggaran dalam hal menampakkan auratnya sama seperti anak kecil. Lihat surat Annur ayat 60.

Bukan sok suci kawan, ini masalah prinsip. Masalah hubungan laki-laki dan perempuan harus dijaga jadi harus ada landasan. Saya melihat si nenek sebagai lansia yang sudah tidak punya gairah terhadap laki-laki, kedua ini darurat sekali, saya dalam posisi terhimpit, saya juga tidak tega menggeser kepala si nenek walaupun sebenarnya saja juga tidak rela dia tertidur nyenyak di bahu yang selama ini kujaga. Betul kawan, jika kau ingin mendapat sesuatu yang utuh buat dirimu layak mendapatkannya dengan menjaga keutuhan dirimu pula. Bukan begitu?

Alhamdulillah, memasuki Kota Bantaeng si nenek terbangun dan mengangkat kepalanya, dia hanya tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya yang tidak utuh.
-----
Di Bantaeng semuanya terungkap, ternyata si nenek itu baru saja terkena musibah, dia ditipu sopir pete-pete di Makassar saat dari pelabuhan menuju terminal Mallengkeri. Dia diturunkan di salah satu mesjid, setelah itu si sopir pergi membawa barang-barang si nenek, temasuk tas dan uangnya. Dia tidak mengantongi uang sepeserpun, untung saja ada yang berbaik hati mengantarnya ke terminal dan ada sopir yang mau mengantarnya ke kampung halaman tanpa membayar.

Ceritanya, si nenek dari Jakarta silaturahim dengan keponakannya, karena tidak bisa naik pesawat maka dia memilih naik kapal laut, sendiri tanpa teman. Menurutnya, dia diberi uang oleh keponakannya jutaan rupiah, semua raib karena disimpan di dalam tas. Pantas saja wajahnya terlihat sangat lelah dan sedih.
"poleka di Jakarta makkabbeang," Kata itu berulang dia ucapkan yang artinya "saya dari Jakarta hanya pergi menghilangkan sesuatu"

Dan bau yang tidak sedap itu betul bau pakaian nenek karena selama di kapal dia tidak ganti baju dan semua pakaiannya juga raib. Ah kasihan sekali nenek ini.

Saya tidak habis pikir, nenek renta seperti ini dibiarkan pergi sendiri tanpa teman, dimana anaknya? Dimana keluarganya?

Ketika memasuki Kabupaten Sinjai, si nenek mengungkapkan sesuatu yang membuat seluruh penumpang tercengang dan lumayan membuat diriku terguncang. Si nenek ternyata masih gadis, dia belum menikah, jadi yang tertidur di bahuku tadi adalah seorang gadis. oh no! bahuku...

12 comments:

  1. Anonymous07:42

    hahaha Awie bahumu sudah tidak utuh lagk

    ReplyDelete
  2. ayash08:00

    demi ini kau mau curhat tadi malam wie...? saya sudah tidur kwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Geer ente, si nenek yg nelpon mau kenalan sama ente

      Delete
  3. azizah08:02

    uhuk uhuk, masih adaji bahu kanan... untuk si dia di kampung halaman hahaha keceplosan

    ReplyDelete
    Replies
    1. kandatto inie... ada kartu ASmu sama saya nah

      Delete
  4. Anonymous08:07

    odende..... bahu yang selama ini terjaga jayuh di tangan nenek2

    ReplyDelete
  5. caile si awie, nikmati sandaran nenek2

    ReplyDelete
  6. caile si awie, nikmati sandaran nenek2

    ReplyDelete
  7. Anonymous08:46

    Wi... kamu..... tega sekali Ndup...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kutau ini yg komentar siapa biar pake anonim

      Delete