Dendam Tujuh Tahun Lalu

Jumat berkah buat semua pembaca blog ini. Hari ini saya ingin share kejadian yang menggelitik, sebuah kejadian yang didasari oleh dendam masa lalu.

Yah kira-kira tujuh tahun yang lalu namun kejadian itu selalu kuingat, lukanya belum mengering, sebenarnya hanya masalah sepele namun entah mengapa kejadian itu tidak bisa kulupakan dan selalu timbul keinginan untuk membalas dendam. Waktu itu, seorang teman yang usil, sebut saja namanya Rustan (memang nama sebenarnya) mengajak saya makan bakso, katanya dia mau traktir. Ajakannya saya sambut dengan antusias karena memang perut lagi lapar dan kantong menipis, terlebih lagi ini kesempatan langka, Rustan amat pelit dalam urusan traktir.

Sambil makan bakso kami bercerita panjang lebar, banyak tema yang dibahas. Kami tertawa cekikikan seolah tidak ada beban. Nah setelah makan tibalah waktu pembayaran, totalnya 18000 rupiah untuk tiga mangkok bakso, Rustan menyerahkan satu lembar uang 20000 tanpa beban seolah dia paling dermawan, saya sempat takjub beberapa detik akan kedermawanannya. Uang 20000 itu sangat besar buatnya.

Sekedar informasi Rustan ini orang mandiri, gigih mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari dengan menjadi kuli cuci dan tukang cukur di asrama mahasiswa Azhar, saya sering menggunakan jasanya dan bayarnya cicil, untuk jasa cuci pakaian tarifnya murah dibandingkan jasa loundry, saat itu biaya untuk 10 potong pakaian hanya 5000 rupiah berlaku untuk kelipatannya. Sedang untuk cukur rambut, tarifnya hanya 3000 rupiah perkepala, biasanya saya membayar dengan traktir makan nasi putih plus 2 potong tempe goreng di warung dekat kampus. Kehidupannya sangat menyedihkan bukan? Makanya saat dia merogoh koceknya saya sangat terpukau, 20000 rupiah itu bisa dia dapat dari mencuci 40 potong pakaian atau mencukur rambut beberapa orang. Namun rasa takjub itu hanya beberapa detik saja, setelah itu timbullah"dendam" berkepanjangan selama 7  tahun.

Setelah menerima uang kembalian dari si penjual bakso sebanyak 2000 rupiah, sambil menahan tawa Rustan memberikan uang itu kepada saya, perasaanku mulai tidak enak. Tawa Rustan meledak ketika saya mengambil uang itu, ternyata saya ditraktir menggunakan uangku sendiri. Saya geram dan Rustan terpingkal-pingkal memperlihatkan gigi runcingnya yang mancung. Tanpa merasa bersalah dia kemudian melenggok meninggalkan saya yang masih terdiam.

Kejadian itu masih kuingat dengan detail dan sejak saat itu saya berniat untuk membalas perlakuannya. Saya tidak mempermasalahkan nilai uangnya, namun sakitnya ditipu teman sendiri itu yang menyiksa. Selama masa pembalasan itu, saya dan Rustan tetap teman akrab, saling traktir sudah menjadi kebiasaan, namun saya tidak puas sebelum membalas kejadian itu. Kehidupannya memang sudah membaik, dia sudah pensiun jadi kuli cuci dan tukang cukur.

Hari ini dia ulang tahun ke 25 dan menurut informasi dari seorang teman si Rustan lagi punya banyak uang di dompetnya, dompetnya dia letakkan di kamar. Karena dia ulang tahun maka saya mengajaknya makan, uang sudah berada di tangan saya, saya mengambil langsung dari dompetnya sama seperti dia mengerjaiku dulu.

Kami makan di warung pinggir jalan, saya memesan nasi kuning sedang lelaki berkulit gelap itu memesan nasi pecel. Kau tau kawan, nasi kuning ini sangat enak masuk di tenggorokan karena menurut dugaanku sebentar lagi hasrat untuk balas dendam akan tercapai, Rustan makan dengan lahap tanpa beban.

Sama seperti yang dulu dia lakukan, saya juga membayar makanan itu kemudian memberikan kembalian uangnya kepada Rustan sambil menahan tawa, Rustan sempat terhenyak beberapa detik karena menyadari ada yang salah, namun kemudian dia terbahak karena ternyata saya mengambil uang di dompet yang salah. itu bukan uangnya.

Maka diapun tertawa menang dan saya kembali harus menerima kekalahan. Saya harus menggantikan uang teman yang saya ambil.

Dalam perjalanan pulang ke rumah saya berpikir bahwa balas dendam itu tidak ada gunanya, memaafkan itu jauh lebih baik dan terhormat. Bukan begitu kawan?

Dan yah memang orang baik akan gagal jika pertama berbuat jahat. haha

Comments

  1. Saya juga punya dendam sama seseorang yg saya sebut 'si hidung' . Terus terang hasrat ingin membalas dendam itu masih ada. Bahkan pernah kunobatkan dia jadi musuh seumur hidup. Tapi gmn balesnya ya? Wkwkwkkkk

    ReplyDelete
  2. kwkwkwkwkwkw nda bagus orang balas dendam

    ReplyDelete

Post a Comment