Menaklukkan Rante Mario, Perjalanan Berkelas Bersama Orang-orang Hebat


Memenangkan Pertarungan hehe
Awal dari tulisan ini saya  buat di puncak Rante Mario, puncak tertinggi di Sulawesi dengan ketinggian 3478 meter diatas permukaan laut. Sengaja memang, agar ruhnya tetap berasa. Penaklukan puncak Rante Mario adalah salah satu pengalaman penting yang akan kucatat apik, ini adalah perjalan berkelas bersama orang-orang hebat. ;-)

Entah saya mau memulai tulisan ini dari mana, dari puncak Rante Mario atau dari kaki Gunung Latimojong, dari rumitnya perjalanan atau takjubnya ketika sampai di puncak. Bingung, namun baiklah saya akan memulainya dari bawah ketika langkah kecil kami mulai menapak di kaki gunung tertinggi di Sulawesi itu.
>>> 

Perjalanan Berkelas Bersama Orang-orang Hebat

  Menulis nama teman2 yang belum sempat ikut ekspedisi kali ini
Memang terasa ada yang hilang dan tidak lengkap ketika banyak teman tidak bisa ikut dalam ekspedisi penaklukan puncak Rante Mario kali ini, saya salah satu orang yang hampir saja tidak ikut, namun Allah sudah mengatur siapa saja yang akan menapakkan kaki di puncak Rante Mario itu dan alhamdulillah saya salah satunya.

Ini adalah perjalanan berkelas bersama orang-orang hebat bukan karena perjalanan ini diikuti oleh orang-orang terkenal sekelas presiden atau artis, namun perjalanan ini berkelas karena mengajarkan banyak hal, tidak hanya menambah pengalaman tapi juga keimanan. Ini bukan hanya olahraga fisik namun juga olahraga hati.

Perjalanan ini diikuti oleh 16 orang dengan beragam latar belakang dan profesi, kebanyakan masih menyandang status sebagai mahasiswa dan jomblo.

>>> 
Walau Lelah Teruslah Melangkah!

Sebelum berangkat ke Dusun Karangan dari Baraka, mobil inilah yang membawa kami
Saya mengacungkan dua jempol untuk jalur perjalanan menuju puncak, menuju ke perkampungan  Karangan di bawah kaki gunung saja memerlukan waktu 3 jam dengan naik mobil hartop melewati jalur ekstrim. Memang mata dimanjakan dengan pemandangan gunung tinggi nan hijau sepanjang perjalanan, atau aktivitas warga yang memanen buah salak yang membuat ngiler, juga rumah panggung dan senyum warga kampung namun hatipun ikut was-was ketika melihat jurang tepat dipinggir jalan. Yup, dari Dusun Karangan itulah pendakian dimulai dari basecamp menuju pos 1.

Dari pos ke pos hampir semuanya mempunyai rute dan sensasi yang berbeda, untuk mencapai puncak terdapat 8 pos. Dari basecamp menuju pos 1 kita melewati jalan setapak dan perkebunan kopi, memang jalurnya tidak susah namun lumayan jauh. Oh iya, di pos 1 ini viewnya sangat Indah berlatar kebun kopi dan gunung di segala arah, sangat cocok untuk berfoto. Hehe! Nah dari pos 1 menuju ke pos 2 kita memasuki area hutan dan jalur sudah mulai rumit, butuh keterampilan menggantung di akar pohon untuk melaluinya. Di pos 2 terdapat sungai kecil dan jernih sebagai sumber air. Kebanyakan pendaki memilih tempat ini untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke pos tiga.

Setelah kami istirahat sejenak dengan mengisi bahan bakar dan shalat duhur plus asar, kami melanjutkan perjalanan ke pos 3. Subhanallah! Dari pos 2 ke pos 3 adalah jalur terjal, ada teman yang nyeletuk “ini bukan mendaki tapi memanjat, Latimojong bukan gunung tapi pohon.” Memang jalur ini sangat rumit dan terjal. sebelumnya kami sudah diwanti-wanti bahwa jalur ini paling terjal diantara semua jalur yang ada.

memanjat hehe


“Jalur ke pos 3 ini paling terjal, setelah itu ke pos 4 dan pos 5 mudah.” Kata seseorang untuk menyemangati, sebut saja namanya Bunga. Hehe

Yah memang jalur ke pos 3 ini sangat susah, semuanya mengatakan seperti itu. Namun salah besar ketika mengatakan jalur ke pos 4 dan 5 mudah, karena semuanya rumit. Apalagi kami menempuhnya di malam hari. Ini PHP pertama yang terjadi selama ekspedisi Gunung Latimojong, setelah itu saya tidak mau lagi percaya dengan jalur mudah! Dari pos 2 sampai pos 5 kami tidak mendapatkan diskon jalur turunan sedikit pun. Sakitnya itu di lutut!

Pos 4 dan  5 kami tempuh pada malam hari ditemani gerimis, walaupun lelah kami tetap melangkah karena dalam benak kami puncak Rante Mario sudah melambai-lambai dengan senyum merekah. Kami mendirikan tenda dan bermalam di pos 5.

>>> 

Romantisme Ukhuwah

Mendaki itu melelahkan tapi ukhuwah itu menguatkan, para pendaki biasanya lebih solid karena diakrabkan dengan kondisi yang sama. Berbagi seteguk air atau sepotong cokelat adalah romantisme ukhuwah yang akan menguatkan kaki untuk terus melangkah.

Lama dan susahnya medan perjalanan akan memperlihatkan sifat asli dari teman perjalanan kita, namun alhamdulillah saya melihat anggota ekspedisi Gunung Latimojong sehat wal afiat dalam hal ini, tidak ada ego yang dikedepankan, apalagi kami didampingi 2 senior yang sangat baik hati dan pengertian. 

Itu terbukti ketika kami turun dari pos 7 ke pos 5, perjalanan yang ditempuh selama 3 jam itu ditemani hujan lebat, salah satu dari kami cedera karena kelingking kakinya sakit akibat sepatunya kekecilan, sebut saja namanya Ochi yah karena memang namanya Ochi. Karena hujan  dan tidak ada yang membawa jas hujan maka kami basah kuyup, Ochi tetap berada di barisan depan, lalu kami mengikutinya di barisan belakang. Karena Ochi kesakitan, maka tidak ada yang menyuruhnya untuk berjalan lebih cepat walau kami semua sudah kedingingan. kami mengikutinya dari belakang sambil terus berpesan agar tetap berhati-hati. Alhamdulilah kami tiba di pos 5 dengan selamat dan ditandai dengan teriakan dan satu kali jepretan.

Itu romantis kawan!
>>> 


MenyembahMu Dalam Dingin yang Menyengat

Di Ketinggian, rasa dekat dengan Tuhan Pencipta Alam Semesta makin bertumbuh, walau sebenarnya Allah itu selalu dekat dengan hambaNya seperti dekatnya urat leher. Ada sensasi yang berbeda ketika kita berdiri menghadap kiblat membaca ayat suci dalam gerakan shalat dalam keadaan dingin yang membabi buta. Kondisi ini mengingatkan pada surah Al-Quraisy.

(1) Karena kebiasaan orang-orang Quraisy  (2) (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas (3) Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah).  (4) Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.

Kali ini dingin menyengat lebih dari biasanya, lapar terasa lebih dari biasanya dan rasa takut dari gangguan makhluk lain pun kadang menghantui. Tapi alhamdulillah kita selalu ada dalam penjagaanNya, maka apa lagi yang menghalagi kita untuk menyembahNya walau dalam keadaan dingin yang membabu buta itu.

Perjalanan dengan orang-orang hebat ini selalu mendekatkan kita kepada Allah, ini adalah kesempatan terbaik untuk tafakkur dan tadabbur dan taqarrub.
>>> 

Bersambung dulu yah! Saya akan menceritakan lanjutannya tentang, Kekuatan Tongkat Mbak Selfie, Pacet dan Sahnya Pendakian serta heroiknya penaklukan Rante Mario.

Comments

  1. ayas02:28

    keren wie... ditunggu lanjutannya.... penasaran sama tongkat ajaibnya mbak selfie. hehe

    ReplyDelete
  2. Yahhh... asli ini tulisan keren... tp bikin penasaran. Dtunggu kelanjutannya kak. Jgn lama2 ya.. :D

    ReplyDelete
  3. lukman05:43

    Kapan ke Rinjani? Kita taklukkan puncak tertinggi ketiga Indonesia. Tulisannya keren bray!

    ReplyDelete
  4. Anonymous06:17

    Wuih mau ikut juga kakak

    ReplyDelete
  5. Mauuuuu.. Pokoknya saya juga harus sampe puncak gunung!!

    ReplyDelete
  6. Saya baru berangan-angan, bagus sekali teman2 mengambil ini sebagai moment akad di atas sana.. heheh.. Serasa bahagia, jika yang menulis kisah ini akad di atas sana... ^_^ Semangat kak awie, oh iya, Bajunya keren.. Kalo ada yang mau pesan Call me.... Oh iya, Ochi itu Junior saya di SMA.. 11 12 lah gagahnya heheh

    ReplyDelete

Post a Comment