Untuk Secuil Iman yang Kita Miliki

Ini hanya coretan kecil sesaat setelah sahur hari ini, mungkin tak berarti namun saya merasa ingin menuliskannya. Yah! Sedikit saja, tentang iman yang bermukim di dahan hati kita.

Kau mengadu mengaku malu karena perangaimu tak seindah namamu, saya yakin bahwa orang tuamu punya harapan besar dibalik nama yang disematkan untukmu, seperti harapanmu ketika mengalungkan nama untuk anak-anakmu saat ini.

Malu itu bagian dari iman, malu itu reaksi dari iman yang menggeliat. Tak ada manusia yang sempurna, semua pernah melakukan kesalahan. Namun yang menjadi pembeda adalah rasa malu dan menyesali perbuatan salah yang pernah dilakukan serta ingin berubah ke arah yang lebih baik.

Disamping kiri kanan kita, budaya malu sudah terkikis habis. Banyak yang berbuat salah namun tak punya rasa malu untuk menyesali ataupun mengakui. Bahkan maksiat sudah mendarah daging dalam perangainya, merasa resah jika tak bermaksiat.

 Jika saat ini kau malu kepada Tuhanmu karena sifatmu belum setampan namamu, maka itu bukti bahwa iman masih ada dalam dirimu. Yah secuil iman yang kita punya namun itu amat berharga tak terbeli dengan apapun.

Jika iman masih ada dalam diri, ia perlu dijaga, naik turun itu dinamika, ia naik ketika kita taat dan ia down ketika kita maksiat.

Yah mungkin iman kita hanya secuil namun itu harga mati yang tak boleh tergadaikan.

Comments

Post a Comment