TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Palestina, Kami disini Untukmu

Gaza kembali membara, seperti kebiasaannya Israel selalu menggila, dengan alasan klasik ingin menghabisi hamas mereka membabi buta, warga sipil yang menjadi korban kebiadaban. Anak-anak meregang nyawa dengan jasad yang tak utuh, air mata tumpah karena kehilangan, bangunan porak poranda, tapi Israel itu bermuka badak, telinga mereka tertutup, mereka tidak pernah merasa bersalah.

Palestina, tanah yang dilindungi. Jika kita berpikir bahwa senjata yang akan menghancurkan mereka, Palestina sejak dulu sudah menjadi milik Israel, berapa kali diserang dengan persenjataan lengkap dan canggih tetapi warga Palestina masih bertahan hanya dengan batu-batu intifadhah sebagai alat perlawanan. Warga Palestina punya pelindung dan itu tidak dimiliki oleh yahudi-yahudi itu!

Warga Gaza, maafkan kami hanya bisa menyebutmu dalam doa-doa, atau hanya bisa merogoh sumbangan seadanya saja. Semoga itu bisa bermanfaat bagi perjuangan kalian, dukamu adalah duka kami semua, air matamu adalah air mata kami. Ketika melihat penderitaanmu lewat media, kami hanya bisa menggigit bibir dan menahan sesak sembari berucap lirih. “Rabb, lindungi mereka dari kebiadaban musuhMu, terima mereka sebagai syahid, dan luluh lantakkan Israel dengan kuasaMu.” Hanya kepada Allah kami menitipmu, karena Dia sebaik-baik penjaga.

Maafkan kami, tengah sibuk dengan pemilihan presiden di negeri kami. Banyak yang cekcok dengan perbedaan pilihan namun insya Allah mereka akan bersatu untuk membelamu, meneriakkan kepada dunia bahwa di Palestina sedang terjadi pembantaian dan tragedi kemanusiaan.

Palestina, entah apa salah kalian di mata dunia sehingga kalian selalu dikucilkan. Brazil yang dibantai oleh Jerman pada semifinal laga piala dunia jauh lebih menggemparkan dibandingkan pembantaian yang dilakukan Israel kepada kalian, dunia membisu. Mereka para Negara adidaya yang mengaku menjunjung tinggi HAM dan penjaga keamanan dunia tidak berbuat apa-apa. Jika mereka enggan membelamu walau sepatah katapun, tidak mengapa! ada kami disini yang selalu membelamu.

>>> 

Dari anak-anak Palestina kami belajar keberanian, kami tidak mendapati anak-anak yang lebih berani menghadapi tentara melebihi anak-anak Palestina. Di negeri kami, kata “tentara dan polisi” adalah senjata ampuh untuk menakut-nakuti anak-anak yang sedang rewel.

Dari ibu-ibu Palestina kami belajar ketegaran, air mata mereka memang berderai ketika satu persatu anak-anak mereka menjadi korban kebiadaban, tapi mereka tidak akan menyerah untuk melawan. Mereka adalah madrasah pertama bagi anak-anak pemberani itu, mereka yang mengajari anak-anak untuk melawan bukan menyerahkan diri. Kehilangan anak-anak tidak membuat mereka memutuskan untuk berhenti saja melahirkan, tapi dari rahim-rahim mereka kembali lahir anak-anak pemberani walaupun kembali harus meregang nyawa dengan koyakan peluru.

Dari lelaki Palestina kami belajar kegigihan, mereka adalah pejuang-pejuang agama, bangsa dan keluarga. mereka selalu berada di garda terdepan, jiwa mereka dikorbankan, untuk masa depan kaum muslimin dan untuk senyuman anak-anak Palestina.

Sungguh ini semata bukan konflik agama, tapi ini adalah tragedi kemanusiaan. Bagi yang masih punya nurani mereka akan berteriak lantang untuk membela, namun bagi yang sudah kelihangan nurani mereka akan membisu.

Sebagai muslim kami wajib membelamu karena kita satu aqidah, karena kalian diperlakukan tidak adil dan semena-mena. sebagai rakyat Indonesia, kami membelamu, karena dalam pembukaan undang-undang dasar kami dikatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesusai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

>>>> 

Ketika menuliskan catatan ini, pukul 02:08 dini hari hujan sedang mengguyur tana Luwu. Disini air hujan sedang mencumbui atap rumah dan pepohonan, namun di Palestina hujan peluru yang mencumbui tubuh mereka.

Disini, ada selimut tebal yang bisa menghangatkan badan, tapi disana hanya pakaian yang terkoyak dan berlumuran darah yang menempel di badannya. Disini ada makanan yang banyak ketika kami lapar, saudaraku sudahkah kalian makan hari ini?

Rabbi, bagaimana kami bisa tidur lelap dalam keadaan seperti ini?
>>> 

1 comment: