TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Catatan Relawan Tabulasi Suara Merah Putih

Catatan ini bukan saingan judul sinetron "catatan hati seorang istri" yang lagi ngetren itu. Dalam tulisan ini tidak ada tokoh hello kitty. Dibawa santai saja yah!

>>>

Saya sangat tergelitik ketika merebak berita di media yang mengatakan real count yang diadakan oleh tabulasi suara nasional koalisi merah putih terduga palsu. Tabulasi nasional itu dihandel langsung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Wajar dan manusiawi kalau saya tergelitik dan tersinggung dengan berita semacam itu karena saya adalah salah satu relawan Tabulasi Suara, apalagi muncul banyak komentar yang menyatakan real count abal-abal.

Real count abal-abal itu muncul karena katanya hasil real count yang dirilis oleh PKS saat ini pernah dirilis dalam prediksi pemenang pilpres yang mengunggulkan Prabowo-Hatta atas Jokowi-Jk. Prediksi itu dimuat di situs berita m.edisinews.com tertanggal 5 juli, walaupun saya baru membacanya pada tanggal 10 juli kemarin karena melihat twitt Burhanuddin Muhtadi. Dan saat saya membacanya, saya melihat bahwa berita itu baru dibaca 500 an kali, jadi selama 5 hari dari tanggal publishnya berita ini belum dibaca banyak orang. Dan muncul dugaan saya, bahwa judul berita ini dipasang tanggal 5 juli tapi datanya baru diinput dan dipublish tanggal 10. Apa yang tidak bisa untuk saat ini? Itu prediksi loh yah!

Nah dalam berita tersebut diberitakan prediksi pendukung prabowo berdasarkan hasil polling yang beredar lewat bbm. Kapan tabulasi suara merah putih mengadakan polling? Dan apa ada bukti bahwa itu resmi dari tim tabulasi merah putih?

Kemudian berita itu dikaitkan dengan bbm yang beredar pada 10 juli yang juga mengabarkan kemenangan Prabowo-Hatta versi real count dengan rincian yang ternyata sama dengan yang dimuat oleh portal di atas. Sebagai relawan Tabulasi Suara saya kaget menerima broadcast seperti itu, kan real countnya sementara jalan kok sudah ada hasilnya. Setelah diklarifikasi ternyata itu bukan berasal dari tim tabulasi suara nasional pusat, sampai saat itu tidak ada publikasi hasil real count. Jadi lagi-lagi sumbernya bukan dari tabulasi suara nasional koalisi merah putih.

Saya kira wajar ketika broadcast tersebut beredar dengan cepat di kalangan pendukung Prabowo-Hatta apalagi mengatas namakan Tabulasi Suara Nasional. Apalagi di tengah dipaksanya kita untuk mempercayai hasil quick count lembaga survei seolah itu sudah hasil akhir, broadcast itu seperti penawar dan penyemangat. Maka beredarlah broadcast tersebut lewat sosial media. Saya sendiri tidak menyebar broadcast tersebut setelah tahu bahwa itu bukan dari tabulasi pusat, saya menduga ini jebakan batman yang nantinya akan melemahkan real count, setelah diskusi dengan tim kami meminta teman-teman untuk tidak menyebarkannya.

Dan opini mulai berkembang bahwa real count tabulasi suara merah putih itu abal-abal dan settingan. Hanya dengan dasar berita dan broadcast yang beredar. Terlalu prematur untuk mengatakan demikian apalagi sumbernya hanya lewat broadcast yang diberitakan, parahnya broadcast itu ditanggapi serius oleh para pengamat yang hebat-hebat.

Tapi intinya data itu bukan dari Tabnas, kalau ditanya jika nanti memang hasilnya sama bagaimana? Saya cuma bisa menjawab siapa tau itu data QUICK COUNT yang tertukar. Haha, eits hampir mirip loh dengan hasil quick count, tinggal ditukar saja... Lagi-lagi cuma prediksi!

Masih boleh saya melanjutkan? Itu tadi kronologis kejadian yang membuat saya galau. Sedikit saya mau menceritakan kejadian di lapangan dalam proses pengumpulan data.
>>>

Sederhana cara berpikirnya, kalau memang real count itu abal-abal, buat apa para saksi di lapangan mati-matian memperjuangkan dan mempertahankan C1 dan D1? Kalau abal-abal datanya pasti beda dengan C1 tersebut, kalau beda kenapa tidak dihancurkan saja supaya tidak ada bukti.

Saya bersama seorang teman ditempatkan di Tana Luwu untuk menghandel tabulasi suara di kabupaten tersebut. Tana Luwu sangat luas dengan 22 kecamatan yang dimilikinya, belum lagi banyak kecamatan dengan medan yang sulit. Misalnya, di kecamatan Latimojong dan Bastem yang medannya jauh dan terjal, biaya untuk naik ke kecamatan tersebut 500 ribu untuk PP. Bayangkan, saya dari Makassar - Luwu saja biayanya hanya 100.000 saja. Selain terjal dan jauh, disana juga tidak ada signal. Tapi data harus tetap masuk dengan cara apapun, kami tidak berani mengisi form tabulasi dengan data abal-abal walau hanya 1 suara. Data kami valid! Untuk melengkapi semua dari 22 kecamatan dan sekitar 200 an kelurahan, kami butuh 3 hari. Alhamdulillah kemarin (11/09) semuanya rampung.

Tentunya yang merasakan susahnya mengumpulkan data dari tempat-tempat terpencil dengan akses yang rumit bukan cuma saya, tapi banyak tim data yang lain. Namun itu tidak membuat kami patah semangat, kami berusaha bekerja maksimal.

Makanya wajar jika saya tersinggung dengan pernyataan demikian.

Sudahlah! Para pengamat politik saat ini harus bercermin pada pengamat sepak bola, prediksi mereka banyak salah. Selama proses perhitungan berjalan, berhentilah membuat statemen yang bisa memecah belah. Presiden Indonesia tidak ditentukan oleh hasil quick count dan real count yang diadakan selain KPU.
>>>

6 comments:

  1. Anonymous11:51

    Mantap untuk pejuang tabulasi suara

    ReplyDelete
  2. memajukan tanggal posting itu semudah klik tombol mouse.... pakai cms gratisan (blogspot/blogger) aja bisa, apalagi cms berbayar/pro..
    coba cek screenshoot ini... http://t.co/PpIIZnYJ13

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah! Jadi bisa saja kan? Hehe makasih yah

      Delete
  3. selamat berjuang,,perjuangan mu ga kan sia sia

    ReplyDelete
  4. Keren! Selamat berjuang! Baarakallaahu

    ReplyDelete
  5. Pujo Rahardjo19:45

    Sudah terbongkar kok, info seolah olah data di edisinews tertanggal 5 juli ternyata dibuat tanggal 10 juli. Ada orang yang panik dengan data tabulasi nya sehingga membuat seolah olah itu data palsu. Anak yang baru belajar IT pun juga tahu cara nya. Salam Indonesia Raya

    ReplyDelete