Untukmu Pejuang Keluarga

Delapan tahun yang lalu, wajah tirus namun sumringah dan sok akrab itu terkenal seantero bumi Azhar sebagai insan tercewet, pemilik tubuh kurus dan seksi itu paling suka bercerita, tentang semuanya, entah berapa kali dia mengulang cerita yang sama kepada orang yang sama dengan nada yang sama. Dan sialnya, saya adalah pelabuhan dari semua ceritanya, sebagai orang baik hati saya menjadi pendengar setia walau dipaksakan agar tidak ada hati yang terluka. Hehe! Suara cempreng itu sering menyiksaku dengan cerita-ceritanya. Sungguh! Ah kau yang menyebalkan dan lebih sering membuat kesal, ternyata hari ini saya rindu celotehmu bertepatan dengan hari miladmu. ;-)

Kawan, bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali tak pernah berjumpa, hanya saling menyapa lewat sosial media dengan kalimat singkat. Ah walaupun tak saling sapa dan bersua yang terpenting saling menyebut nama dalam doa. Namamu masih ada dalam kidung doa-doa yang terlantun.

Kau masih ingat, waktu kita sama-sama berada di pangkuan tarbiyah, kau lebih dulu mengenal tarbiyah dibanding diriku. Awal-awal bertemu, dengan bangga kau selalu menceritakan tentang aktivitas tarbiyahmu di SMA kota tempat tinggalmu, tentang murabbimu, tentang teman-teman tarbiyahmu termasuk tentang seorang akhwat luar biasa itu. Saat itu saya benar-benar cemburu karena saya terlambat mengenal dunia tarbiyah. Kita pernah duduk melingkar bersama, dididik oleh murabbi yang sama mereka adalah kanda sejati kita. Kau mengaku tidak lagi di pangkuan tarbiyah, tapi saya yakin hatimu masih tertambat disini karena kita mengikatnya dengan rabithah.

Kau menyebut dirimu pejuang keluarga, yah kamu memang pejuang! Saya adalah saksinya, kau akan melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang kau sayangi, baik itu keluarga ataupun sahabat-sahabatmu. Tetaplah seperti itu, jangan terganti. ;-)

Ah! Bebanmu kian berat, saya tahu itu. Sejak kedua orang tuamu telah tiada, kau menjadi tulang punggung bagi keluarga. Kau menjadi kakak sekaligus ayah bagi si bungsu, tetaplah berjuang! Fighting! Saya sarankan kau segeralah menyempurnakan agamamu dengan menikah, mungkin kau butuh pundak untuk bersandar saat lelah datang menyerangmu, dan saya yakin pundakmu sangat kuat untuk menerima kepala yang akan bersandar disana. Hehe! Umurmu menghampiri kepala 3, saya ikhlas didahului. ;-) bukankah sudah ada seorang gadis yang mengusik tidurmu? Lamar saja!

Catatan kecil ini mungkin tidak berarti namun hanya ini kado yang bisa kuberi, yah! Selamat milad semoga makin berkah usiamu, makin kuat imanmu dan Allah selalu membersamai langkahmu.

Comments

  1. Anonymous09:59

    Selamat milad pejuang keluarga...

    ReplyDelete

Post a Comment