TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Tasbih Kita Di Atas Awan

Puncak Bawakaraeng
“Allah menciptakan gunung yang tinggi menjulang, kokoh dengan bebatuan dan pepohonan, dan Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menjelajahinya.” Munawir Syam

Subhanallah… kata pertama yang terucap ketika menginjakkan kaki di puncak gunung Bawakaraeng. Rasa lelah yang menggorogoti tubuh hilang ketika melihat pemandangan yang terhampar. Rabb, disini di ketinggian 2830 Meter  kami menyebutMu, mengagumi ciptaanMu, disini di atas awan yang menghampar kami merasa lebih dekat denganMu, walau sebenarnya Engkau selalu dekat lebih dekat dari urat leher. Semua tasbih, tahmid, tahlil dan takbir hanya untukMu.

Perjalanan menuju puncak Bawakaraeng memberikan pengalaman dan pelajaran hidup yang sangat berharga,  perjalanan ini bukan hanya sebuah pendakian dan petualangan, namun juga tentang tamasya iman dan ukhuwah. Karena kadang iman perlu dihibur dengan perjalanan, dan kadang ukhuwah harus diuji dengan perjalanan.

>>> 
Saat kening kita menyentuh rumput dan tanah ketika bersujud di tengah lebatnya hutan atau saat bibir bergetar dalam bacaan shalat karena menggigil hebat akibat dingin yang membungkus tubuh, saat itulah iman kita merasakan sesuatu yang berbeda. Selama ini kita bersujud di atas lantai yang bersih atau sajadah harum dan lembut, namun saat ini kita bersujud di atas rerumputan. Apapun kondisinya, Shalat adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, dalam keadaan lapang ataupun sempit shalat harus ditegakkan. Sujud di tengah hutan yang dingin ditemani gemercik air sungai dan suara binatang malam ternyata sangat nikmat.
Puncak Talung bersama rombongan


Perjalanan ke puncak Bawakaraeng ini termasuk berat karena tidak melewati jalur umum, kata sang komandan bahwa jalur yang ini adalah jalur luar biasa dan jarang ditempuh oleh pendaki, kami menggunakan jalur Lembanna- Puncak Talung-bawakareng. perjalanan dimulai hari jumat pukul 23:30 dengan berangkat bersama rombongan ke Malino tepatnya di desa Lembanna, kami tiba pukul 01:20 dini hari. Dan memulai pendakian melewati hutan pinus menuju Puncak Talung, menuju Talung kami melewati empat gunung dan sungai kecil dengan rute turunan dan pendakian yang terjal, kira-kira pukul 07:00 kami tiba di Talung disambut indahnya pemandangan lembah dan pegungan yang membiru. Lembah itu disebut Lembah Ramma, tempat favorit pada pendaki yang ingin menghabiskan waktunya dengan berkemah. Setelah puas menikmati pemandangan, sarapan dan istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan menuju gunung Bawakaraeng dan disinilah ujian itu semakin terasa, rute ini lebih ekstrim dari jalur umum, kami melewati pinggiran jurang, perjalanan memakan waktu 12 jam hanya untuk sampai di pos 8. Untuk menuju puncak Bawakaraeng kami masih harus melewati 2 pos lagi dengan perkiraan waktu sampai dua jam jarak tempuh. Kami bermalam di pos 8 dan melanjutkan perjalan pada pagi hari (Ahad).

Seperti halnya kehidupan, kita menjalaninya seperti perjalanan ke puncak Bawakaraeng ini, banyak rute yang susah dan ekstrim namun dengan tekad yang kuat, kebersamaan dan tawakkal kita mampu menjalaninya. Dalam perjalanan banyak teman yang mengeluh karena pendakian yang panjang dan terjal seperti tidak berujung, namun ketika mereka tiba dipuncak keluhan itu terbayar dengan indahnya pemandangan yang menghampar. Selalu begitu, untuk sesuatu yang kita perjuangkan harus disertai dengan ujian-ujian berat. Seorang teman mengeluh tidak akan naik gunung lagi setelah ini karena naik gunung itu melelahkan, namun ternyata setelah sampai di puncak dia sangat terpesona dan bahkan “menyimpan hatinya” di Bawakaraeng ketika kami sudah turun. Hehe
>>> 
Rute melewati pinggiran jurang

Kadang ukhuwah harus diuji dengan perjalanan, dalam perjalanan menuju puncak tidak sedikit teman yang kelelahan dan berniat untuk berhenti saja, tidak melanjutkan pendakian ke puncak, namun kita saling menyemangati agar tidak patah semangat, dan alhasil kita semua bisa sampai di puncak Bawakaraeng. Begitupun dalam perjalanan pulang ada beberapa teman yang cedera, ada yang kesusahan dalam berjalan karena cedera di kaki dan lutut adapula yang sudah tidak kuat memikul barang bawaannya. Dalam keadaan susah seperti ini ukhuwah dan kebersamaan itu diuji, dan kita saling memikul beban. Perjalanan pulang yang harusnya ditempuh hanya 9-10 jam menjadi 12 jam.

Memang ada yang mengaku kapok dalam perjalanan ini, namun mereka tidak bisa memungkiri indahnya puncak bawakaraeng dan indahnya ukhuwah yang kita jalin.

Sampai bertemu di pendakian selanjutnya…

The next Lompo Battang Mountain


No comments: