Saat Namaku dan Namamu adalah Antum

Beberapa hari yang lalu saya ke kampus hijau, dan selembar pengumuman tertempel di papan informasi tentang penerimaan mahasiswa baru. Saya langsung teringat awal menginjakkan kaki di kampus ini tahun 2006 yang lalu.

Saya berdiri lama di depan papan informasi sambil senyum-senyum, dan seperti di film-film ketika mereka flash back tentang kenangannya, saya seperti melihat diriku sendiri yang polos, energik dan bertubuh ramping. Puluhan wajah teman-temanku juga terbayang bagai hantu, satu per satu kenangan berkesan tentang mereka datang silih berganti.

Wajah pertama yang muncul adalah seorang teman dengan gaya minimalis. Celana menggantung di atas mata kaki, jenggot melambai-lambai. Dia datang ke kampus berbekal 2 potong kalimat bahasa arab sederhana dan standar, setiap ketemu dia pasti menyapa, "Assalamu'alaikum. Kaifa haaluk?" Dengan percaya diri dia menyapa semua calon mahasiswa yang ditemui. Alhamdulillah setelah dua bulan kuliah di azhar, waktu liburan dia bisa membawa pulang 1 kosa kata bahasa arab yang paling digemarinya "Thawilun".

Di sudut lain, seorang teman yang cerewet bercerita panjang lebar tentang neneknya, bapaknya, sekolahnya bahkan tentang hantu-hantu yang pernah dia temui. Dia bercerita dengan suara membahana dan kami yang polos hanya bisa takjub mendengar cerita hebatnya.
Saya sendiri takjub dengan cerita tentang hantu, katanya dia punya teman hantu wanita yang cantik, korban kejahatan Belanda zaman penjajahan dulu.


Di sudut berbeda, 6 cowok ganteng dengan kostum hitam-hitam, mereka berenam datang bersamaan memakai jaket hitam, serasi! Untung tahun itu belum zaman boy band. Ke enam orang ini selalu bersama-sama. Selain ke enam orang itu, seorang lagi yang memakai jaket hitam dengan tulisan "al-itsar" tapi dia tidak termasuk dalam genk.

Sosok lain adalah lelaki dengan songkok putih dipasang ala-ala pastur di kepalanya, tangannya selalu menenteng buku pidato 3 bahasa, Indonesia, Inggris dan Arab. Orangnya pendiam dan terlihat misterius, jiwa Sinichi Kudo ku bangkit ketika melihatnya. Dia selalu bergaya lamban, mulutnya selalu komat-kamit, dan senyumnya irit.
Di sudut lain ada pemandangan berbeda, mereka genk terheboh, suaranya paling ngebass dan penyumbang polusi terbesar di kampus saat itu.

Delapan tahun yang lalu, saat nama panggilan kita berubah menjadi antum, kau memanggilku antum sayapun memanggilmu antum semua serba antum. Delapan tahun yang lama tapi tak terasa dan kita belum sarjana. Haha

Apa kabar skripsimu kawan?



Comments

  1. Anonymous02:02

    Deh belum sarjana... Hahaha

    ReplyDelete
  2. Pertama kali nginap di gedung ijo dan engkau datang malam2. Bikin merinding ..

    ReplyDelete
  3. Malam pertama berdua atau bertiga hotman itu waktu?

    ReplyDelete
  4. Malam ketika mengirimkan akhwat SMS, Dan kau menyetel dering yg menyebabkanku teranjak...

    ReplyDelete
  5. Mau tong diungkap kenakalan remajamu itukah Wawan saudaraku? Haha

    ReplyDelete

Post a Comment