2008, Suatu Pagi di Waduk Pampang


Masih pagi sekali saat kami berada di waduk Pampang, Antang. Saat itu seorang teman menyeret tanganku ke tempat yang menjadi favorit mahasiswa Al-Azhar untuk melepas lelah dengan melihat pemandangan yang menghampar atau sekedar berteriak lepas. Waduk Pampang adalah sepotong syurga di Antang saat itu. Dan kali ini temanku sengaja membawaku kesini, dia ingin mengungkapkan sesuatu yang sangat penting.

Wajah sahabat yang tiga tahun lebih tua dariku itu nampak pucat pasi, gusar tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang biasa-biasa saja, ganteng tidak, jelek juga tidak. Setelah terdiam sejenak, dia mulai berkata.

"Sepertinya saya sudah hampir mati. Awie... Saya belum siap." Katanya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, saya yang mendengarnya mulai merinding, di pagi buta ngomong mati?

"Kenapako?"

"Sakitka'. Tadi malam ada segumpal daging keluar dari hidungku... Sepertinya itu tanda..." Jawabnya dengan suara yang terdengar seperti tangisan. Saya makin merinding dan sepertinya ingin lari saja dari tempat itu.

Memang temanku ini agak aneh, belakangan dia selalu mengalami hal aneh di asrama, dia menghubungkan apa yang dialaminya hari ini dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Dia pernah tidur di musholla kampus, saat tengah malam dia terbangun dan melihat ada kaki yang mendekat ke arahnya, di kaki tersebut tergantung sebuah kertas yang bertuliskan namanya. Dia menganggap bahwa itu adalah surat Tuhan untuknya, bahwa sebentar lagi Malaikat maut akan menjemputnya.

"Sebentar lagi saya mati... Hiks hiks hiks."

"Insaf baik-baik mako padeng nah, janganko nakal lagi. Nanti saya traktirko nasi kuning" Saya menasehati dengan bijak. Hehe

Nasi kuning mungkin menu yang tepat, karena lambung temanku ini terlalu pilih kasih, lambung mahasiswa yang tidak tahu diri memang. Lambung yang tidak menerima telur, mie namun berkawan akrab dengan timun alias bonte. Temanku ini pernah keracunan ikan cakalang loh...
»»»»

Saat kami pulang ke asrama, wajahku sumringah namun wajah temanku masih sendu karena mengingat malaikat maut sebentar lagi menjemputnya. Setidaknya kau dijemput dalam keadaan kenyang kawan!

Saya menuju kamarnya untuk melihat sepotong daging yang keluar dari hidungnya, dia menyimpannya dalam sebuah mangkok bening berisi air yah seperti orang yang memelihara ikan bitte. Saat melihatnya saya tidak yakin bahwa itu daging, tapi ingus yang membeku bercampur darah, namun dia ngotot bahwa itu daging dan sebentar lagi malaikat maut menjemputnya. Saya menyerah dan memberinya waktu untuk mengambil kesimpulan.

"Apa saya harus operasi?" Katanya dingin sambil melihat langit-langit kamar.

"Ha? Operasi hidung?" Teriakku dalam hati.

Temanku ini betul-betul galau, dia juga mengabarkan hal itu kepada keluarganya di kampung.
»»»

Tiga hari setelahnya, dia datang ke kamarku dengan wajah cerah ceria, dia mengabarkan bahwa yang keluar dari hidungnya bukan daging tapi kemungkinan besar adalah ingus yang membeku. Ah! Mungkin ingusnya sudah mencair direndam di mangkok selama tiga hari tiga malam. Huam!

Sederhana, Pelajaran moral dari cerita ini adalah hidung harus sering-sering dibersihkan hingga tidak ada ingus yang membeku.

Bagaimana skripsimu kawan? Haha

*nama tokoh dirahasiakan yah! Cari sendiri orangnya.

Comments

  1. Anonymous05:29

    Hahahahahahaahahahahahahahahaha

    ReplyDelete
  2. Hahahah itu waduk pelepas penat...klo sttesss bisa teriak di sana....
    Ullang itu namanya dan makanan andalanya adalan timun emas

    ReplyDelete
  3. Hahahaha kalau sudah ujian langsung pergi ke waduk teriak...

    ReplyDelete
  4. nama dirahasiakan tapi pasang poto... wkwkwkwk

    ReplyDelete
  5. Anonymous08:44

    hahaha

    ReplyDelete
  6. Anonymous16:19

    Sp mi itu?

    ReplyDelete
  7. Anonymous21:38

    :d

    ReplyDelete

Post a Comment