Untukmu Adik Ideologisku

ilustrasi
Adik Ideologisku, berkat kalian saya bisa menjadi kakak walaupun terlahir sebagai anak tunggal. di lain waktu, saya kadang menjadi ayah walaupun usia masih muda dan status masih lajang. di lain waktu pula, saya kadang menjadi seorang sahabat yang setia mendengar keluhan atau apapun yang keluar dari mulutmu. 

Adik ideologisku, dalam sepekan ada satu malam yang sangat saya rindukan, malam dimana kita akan berkumpul bersama dalam lingkaran kecil, dengan wajah-wajah terbasuh wudhu. Dalam lingkaran itu kita menyapa dengan bahasa-bahasa cinta. Malam itu selalu kupersiapkan dengan istimewa, pada siang harinya saya menyempatkan membaca buku lebih banyak dari hari-hari biasanya, tilawahku pun lebih panjang dari hari biasa, itu untuk menyambut kedatangan kalian, walau mungkin kadang mengecewakan.

Adik ideologisku, walau kita lahir dari rahim ibu yang berbeda namun saat ini kita dibina di rahim yang sama, rahim yang bernama tarbiyah. di rahim ini kita saling mengingatkan dan menguatkan, membimbing dan menasehati, di rahim ini kita terus belajar. Lalu, kita keluar berinteraksi dengan masyarakat, memberi manfaat kepada mereka dan suatu saat mereka mengerti bahwa rahim tarbiyah telah melahirkan anak-anak yang bermanfaat bagi sesama.

Adikku, generasi pemburu syurga, saya kagum dengan semangat kalian. Selalu semangat mengikuti halaqah walau harus menempuh jarak yang jauh. Kalian tidak dibayar sepeserpun untuk ikut dalam imperium kebenaran ini. Kalian datang dengan wajah lelah namun tetap tersenyum.Saya selalu tersenyum ketika kalian mengeluarkan mushaf kecil dari tas, itu tandanya kalian selalu siap dengan al-quran.

Adikku, generasi perindu syurga. Saat kita memulai halaqah dengan tilawah, saya merasakan para malaikat membentangkan sayapnya mendoakan kita, bukankah itu sesuai janji Rasulullah? siapa yang berkumpul mengkaji ayatNya maka para Malaikat membentangkan sayap menaungi dan mendoakan mereka. Saya selalu yakin dengan janji Insan Mulia itu. Saya selalu merasa nyaman jika bersama kalian, liqo adalah pertemuan keluarga kecil setelah kita sibuk dengan amanah masing-masing.

Adikku,para sholihin. halaqah kita selalu begitu, sesi curhat jauh lebih banyak dan panjang dari materi halaqah.Curhat memang akan terasa nikmat apalagi ditemani cemilan ala kadarnya. Ada yang curhat dengan pede adapula yang masih malu-malu bahkan ada juga yang lebih memilih curhat di luar halaqah, lewat sms atau telepon bahkan meminta bertemu empat mata. hehe!

Adikku, generasi ketiga Indonesia. dalam halaqah kita selalu mengungkapkan kecintaan kita kepada negeri ini, kecintaan kita kepada agama ini. di usia muda, kita telah berdiskusi panjang lebar, tentang strategi tentang ideologi. ;-) Hal yang tidak pernah saya pikirkan ketika belum memasuki gerbang tarbiyah dan bercengkrama di taman-tamannya.

Oh iya, saat pertama kali bertemu dulu, kita menyepakati satu malam untuk dijadikan malam tarbiyah. Dengan semangat gelombang ketiga, kalian memilih malam ahad. Alasannya sederhana, kalian tidak mau keluyuran di malam minggu, jika teman-temanmu menyempatkan malam minggu bersama pacarnya, kalian memilih malam minggu bersama murabbi. Saya menyetujui usulan kalian, supaya murabbimu ini juga tidak keluyuran di malam minggu. hehe!

saat halaqah kita bubar, saya mengantarmu sampai di gerbang, melihatmu pulang dengan senyum mengembang sambil mengucap doa keselamatan untukmu. Saya mencintaimu karenaNya semoga Allah selalu menjaga kita dalam barisan ini, karena kalian tahu, bertahan disini bukanlah hal mudah.

Adikku, generasi pengusung dakwah. Kalian adalah jariyahku, berharap suatu saat kita akan berkumpul di telaga kautsar dan halaqah disana seperti halaqah kita disini.:-)

Comments