Skenario tak Terduga

Udara kota Bantaeng membara seperti amarahku, saya tidak terima ditipu oleh Wahyu. Rasa ibaku yang dulu menggunung kini hancur lebur berganti kebencian yang melangit. Saya tidak terima! Untuk pertama kalinya ada lelaki yang menipu saya.
Lelaki itu menghampiriku di depan kantor. Saya memang berpesan lewat temannya agar dia menemuiku di kantor sekarang juga. Saya menatap wajah lugunya dengan mata berkilat karena amarah! Dadaku bergemuruh ingin segera memaki lelaki penipu itu.

Dia turun dari motor bututnya, masih dengan wajah lugu, pakaian lusuh serta sendal jepit yang masih setia menempel di kakinya. Dia tersenyum kecil tanpa merasa bersalah saat tiba di depanku.

"Ibu Melda memanggil saya?" Katanya sedikit membungkukkan badan, sejak pertama ketemu dia memang memanggilku dengan panggilan ibu.

"Pak Wahyu! Apa maksudmu menipu saya?" Tanyaku tajam dengan suara meninggi, kulihat dia kaget menerima responku.

"Maksudnya?" Dia menatapku penuh selidik, dari tatapannya tidak ada lagi tatapan seorang kuli.

"Pak polisi yang terhormat! Anda menipu saya, anda bukan kuli!" Suaraku melengking, beberapa orang menoleh ke arah kami.

"Jadi?" Lelaki itu masih menatapku, tajam!

"Iya saya sudah tahu semuanya dan mulai saat ini menjauh dari saya!" Kataku masih dengan nada yang sama. "Dasar penipu!"
»»»»»

Ah seperti maut, jodoh akan menemukanmu atau kau menemukannya walau bersembunyi di ruang gelap tak bercahaya. Jodoh datang dengan caranya sendiri,Jodoh tidak ditentukan dari lama atau tidaknya interaksimu dengannya, bahkan kau cinta atau tidak jika ia jodohmu maka akad akan terucap menembus segala rintangan.

Setelah kejadian itu, Wahyu tidak pernah lagi nongol di dekat kantor, kabarnya pun sudah tidak pernah terdengar. Saya juga sedang menjalani lamaran dari seorang pria yang bekerja di Jawa, ini adalah pria ke enam yang melamarku dan baru kali ini diterima oleh orang tuaku.

Namun Allah berkendak lain, skenarionya kembali membolak-balik keadaan yang semula berjalan normal. Wahyu berbuat ulah sehingga Butta Toa gempar, dia memukuli seorang anak dari keluarga terpandang dan akibatnya dia menjadi buronan preman se kabupaten. Sebagai orang yang pernah mengenalnya hatiku kembali diaduk-aduk perasaan iba, saya hanya ingin menolong lelaki yang pernah menipuku itu, dorongan untuk membelanya begitu kuat.

Maka saya pun mulai melakukan banyak cara untuk membela Wahyu tanpa sepengetahuannya, saya nego dengan orang tua sang korban karena saya lumayan dekat dengan keluarganya namun ternyata cara itu tidak berhasil. Maka langkah selanjutnya adalah menemui kepala preman yang ingin menghabisi Wahyu, kepala preman itu punya hutang budi kepada saya.

Ceritanya seperti ini, ibu sang kepala preman pernah kecelakaan dan saya lah yang membawanya ke rumah sakit dan mengurus semua kebutuhannya. Sang kepala preman yang bernama Budi itu mengatakan berhutang dunia akhirat kepada saya. Maka saya ingin menggunakan itu untuk menolong Wahyu, lelaki penipu itu!

"Saya dengar, bapak lagi cari orang yang bernama Wahyu." Tanyaku kepada Budi saat dia datang menemuiku di kantor, kulihat wajahnya mengeras mendengar nama itu kusebut.

"Iya, Dia kurang ajar! Kalau saya ketemu pasti akan saya habisi." Jawabnya geram.

"Hmmm tapi dia itu calon suamiku pak." Entah kenapa bisa kata itu terlontar, dan mungkin itu diaminkan oleh Malaikat. Budi sangat kaget mendengarnya.

"Serius? Tapi dia tetap harus diberi pelajaran." Budi masih teguh pendirian.

"Ah! Yang jelas saya tidak bisa hidup tanpa dia, saya sangat mencintainya!" Ungkapku lebih gila! Teman-temanku melotot karena mereka tahu bahwa saya sedang dalam lamaran orang lain.

"Baiklah kalau begitu, walaupun sangat terpaksa, tapi karena saya punya hutang saya akan membebaskan Wahyu." Akhirnya Budi menyerah.

Tak berselang lama, Wahyu tiba di kantor. Memang saya memanggilnya untuk dipertemukan langsung dengan kepala preman ini. Mereka bersalaman dan berdamai.

Sebelum meninggalkan kantor, Wahyu mengucapkan terima kasih dan melontarkan kalimat yang terlalu berani.

"Saya tidak mau menikah kalau bukan dengan ibu Imelda." Katanya sambil memandangku, saya kaget namun tidak ada getaran apa-apa, bukankah kalimat seperti itu adalah hal biasa bagi seorang playboy?

"Eh! Pacar saya jauh lebih ganteng dari kamu!" Jawabku sekenanya!
»»»

Ternyata peristiwa itu menyebar begitu cepat, saya digosipkan berpacaran dengan Wahyu dan akan segera menikah, gosip yang beredar saya sedang berbadan dua.

Saya menangis tak karuan mendengar berita itu, apa kata orang tuaku jika berita ini sampai di telinga mereka, apalagi tanggal pernikahanku sudah ditetapkan.

Saya tidak mencintai Wahyu! Tidak mencintainya! Saya hanya iba dan mau menolong, itu saja! Tuhan Engkau tahu perasaanku.


Bersambung ke part IV

Comments

  1. fikar07:27

    Assiek... Salam sama mas Wahyu... Kapan2 kita lanjutkan ceritanya. Hahha

    ReplyDelete

Post a Comment