TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Lelaki itu Seorang Kuli

Namanya Wahyu, dia adalah pacar sepupuku. Pertama kali bertemu dengannya saat dia kunjungan malam minggu di rumah pacarnya. Saya tinggal di rumah sepupu. Dari pertemuan itu saya tahu nama dan pekerjaannya, dia seorang kuli di pasar, begitu pengakuannya. Dia peranakan Jawa dan Makassar, dari Kota Daeng mengadu nasib di Butta Toa untuk menghidupi keluarganya, dia yatim sejak kelas 4 SD. Masa mudanya terenggut oleh pekerjaan-pekerjaan berat. Mendengar kisahnya ada iba sekaligus kagum yang menyusup halus dalam batinku. Iba dengan kisah sedihnya dan kagum akan semangat kerjanya apalagi semua dilakukan demi keluarga. Ah! Lelaki yang peduli dengan keluarga selalu menjadi sosok istimewa di mataku.
>>>

Setelah perkenalan itu, Wahyu selalu muncul di dekat kantorku ketika jam pulang kerja. Dia muncul dengan pakaian lusuh dan wajah amburadul plus sendal jepit yang hampir putus. Dia selalu menawariku jasa antar pulang ke rumah namun tawarannya selalu kutolak karena saya punya tukang antar jemput yang setia, dialah daeng becak. Becak itu sengaja kubelikan untuk Daeng Anto agar digunakan mencari nafkah, sebagai balasannya Daeng Anto siap mengantarku kemanapun saya mau.

Namun setelah Wahyu nongol di dekat kantor, Daeng Anto selalu punya alasan ketika jam pulang kantor. Alasan ban bocor paling sering kudengar, alhasil dengan begitu saya tidak punya alasan untuk menolak tawaran Wahyu. Sepupuku tidak pernah protes dengan kedekatanku dengan pacarnya itu.

Suatu waktu, saya mengajak Wahyu makan malam sebagai ucapan terima kasih atas jasa antar jemputnya, kami makan di warung pinggiran jalan. Saat itu rasa ibaku kepada lelaki ini makin menjadi-jadi.

"Pak, bu mau pesan apa?" tanya pelayan warung.
"ayam goreng" jawabku
"saya juga, tapi setengah saja pak yah!" ucap Wahyu sambil menunduk.
"kok setengah?" tanyaku.
"iya, setengahnya dibungkus untuk dimakan besok pagi." jawabnya sambil tetap menunduk, tak berani menatapku.

Saat itu iba itu semakin menyusup dalam-dalam, kami punya kesamaan, sama-sama dari Kota Daeng mengadu nasib di Bantaeng. Hanya saja pekerjaan kami berbeda. Malam itu Wahyu pulang dengan membawa separuh makanannya untuk cadangan besok pagi. Lelaki itu telah mencuri rasa ibaku.
>>>
Siang itu saya menuju wartel untuk menelpon keluarga di Makassar, menelpon menggunakan HP terlalu mahal tarifnya saat itu. Di wartel saya bertemu lagi dengan lelaki itu, dia sedang memelas ke penjaga wartel agar diizinkan menelpon, dia mengaku uangnya tidak cukup. 

"biar saya yang bayar pak." ujarku kepada penjaga wartel, Wahyu pun tersenyum berterima kasih padaku.

'Terima kasih bu Imelda." Jawabnya malu-malu

Sayup-sayup kudengar suara Wahyu yang lagi menelpon di bilik wartel, suaranya sendu dan sangat menyedihkan.

"bu, saya belum bisa kirim uang sekarang, tapi saya janji akan kirim bulan ini. Beras masih ada kan?" kata Wahyu lewat telepon, entah siapa di seberang sana, kemungkinan besar ibunya.
>>>>
Sepupuku dan Wahyu akhirnya putus entah apa penyebabnya, tapi bukankah sudah kubilang lelaki ini adalah playboy. Kuli itu banyak fansnya. Namun saya bukan salah satu fansnya, walaupun saya kagum dengan kepeduliannya kepada keluarga.
>>>>>
Awalnya saya kira adegan lelaki yang menyamar menjadi pembantu untuk memikat hati seorang perempuan hanya ada di film-film, tidak ada di kehidupan nyata, tapi ternyata saya salah besar. 

Hari itu semuanya terbongkar dan saya catat dalam memoriku bahwa hari itu amarahku meradang! Saya geram ditipu oleh lelaki bernama Wahyu itu! Wahyu yang berpenampilan lusuh dengan sendal jepit hampir putus itu ternyata bukan seorang kuli, tapi dia seorang intel kepolisian. Saya geram dan ingin segera melabrak lelaki itu!

Bersambung ke part III

No comments: