TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Sepenggal Cerita Antara Kau dan Ibu

Sepiring nasi hangat dan sepotong ikan baronang goreng menemani cerita malam ini, banyak potongan-potongan cerita yang akan kita rangkum menjadi satu rangkaian indah, bahwa betapapun sulitnya hidup yang kita jalani dengan segala lika-likunya, Allah tak pernah meninggalkan kita.

Cerita tentang masa kecil yang indah, namun musibah itu mengubah segalanya, si jago merah melahap habis rumahmu dan si adik bungsu ikut meregang nyawa, air mata tumpah! Semenjak itu ayah sakit-sakitan dan setahun setelahnya ayah pun menemui Sang Pencipta. Kau masih terlalu kecil, masih kelas empat SD. Keadaan itu mengubahmu untuk bersikap jauh lebih dewasa.

Ini cerita tentang ibu yang kau sayangi, ibu yang menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayah berpulang. Ini sepotong cerita tentang seorang anak yang setia membantu pekerjaan sang ibu ketika pulang sekolah. Yah ibu yang kau sayangi dan menyayangimu.

Tahun telah berganti, sang ibu jelas telah menua seiring usia, dan kau saat ini sudah bertumbuh bahkan menjadi ayah bagi dua anak yang lucu. Waktu dan kondisi membuatmu tak lagi menemani sang ibu.

Kau rindu ibu, begitu pengakuanmu. Sudah setahun tak bertemu karena lagi ada masalah, sebesar apapun masalahnya tidak ada yang bisa memutus hubungan anak dan ibu. Rindu itu tak kau rasa sendiri, ibu pasti juga merasakannya.

Teringat kutipan yang pernah saya baca, bagi anak lelaki ibu adalah cinta pertama dan sejatinya, anak lelaki yang baik tidak akan menyakiti ibunya.

Kau hamba yang baik bagi Tuhan yang menciptakanmu, kau anak lelaki yang baik bagi seorang ibu yang telah menua, kaupun suami yang baik bagi istri yang setia, kau juga ayah yang baik bagi dua anak yang lucu, kau juga sahabat yang baik bagi sahabat-sahabatmu.

Mungkin kau perlu bersabar mendengar ungkapan cinta dari sang ibu walaupun dalam bentuk amarah, tak mengapa bukan? Karena dunia seisinya yang kau berikan kepadanya pun tak bisa mengganti setetes air susu yang telah membentukmu sampai saat ini.

Memang masalahnya tak sesederhana itu, apalagi ini menyangkut dua kutub yang berbeda, banyak konflik yang keluarga yang mewarnainya. Namun kadang kita perlu mengalah karena dulu mereka juga pernah mengalah untuk kita. Kau perlu berbicara dari hati ke hati, hanya berdua.

Mungkin ibu butuh diingatkan kenangan indah itu, saat kau membantunya memasak di dapur ketika ada pesanan makanan, atau saat ibu memandangimu sambil tersenyum ketika kamu makan dengan lahapnya.

Waktu terus berjalan, tiap detiknya tak akan berulang dan kita makin mendekati gerbang kematian. Ketika niat baik itu datang jangan disiakan, karena kesempatan itu bisa saja tak terulang.

No comments: