TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Kabar Menggemberikan dari Ayah Keren

Ayah keren, tidak kudapati lagi kilatan gelisah dari sorot matamu, mendung pun telah memudar dari wajahmu, semangat yang kemarin masih bersembunyi malu dalam dirimu, kini tak canggung lagi menampakkan dirinya. Biarkan dia menggelora bersama tiap gerakmu.

Selalu optimis, itulah yang saya suka dari sifatmu. Ketika masalah hidup merayu untuk tunduk bertekuk lutut, kau tetap tegar enggan tuk berputus asa. Kau luar biasa, disaat orang lain mengeluh mengutuk Tuhan atas musibah yang dialami, kau tetap yakin bahwa Allah punya rencana terbaik dibalik semua kejadian ini. Allah Maha Baik dan selalu membersamai orang-orang baik.

Ayah keren, kau tahu bahwa iman itu butuh pengorbanan dan orang terdahulu telah membuktikan itu. Ketika kita mengaku beriman, tentu Allah ingin tahu seberapa kuat kita memegang iman yang dimiliki. Apakah sakitnya ujian akan membuat kita menggenggam makin erat ataukah memilih melepaskan agar tak jadi beban.

Ayah keren, mari kita intip kisah orang terdahulu itu, kisahnya terlukis indah dalam sejarah peradaban.

Lihatlah, disana ada Ayyub, orang terpilih dari kaumnya. Siapa yang meragukan keimanannya? Dia seorang utusan Allah. Namun Sang Maha Baik itu ingin tahu seberapa kuat Ayyub dalam memegang imannya.
Tanpa berbuat dosa, satu per satu anak-anak Ayyub meninggal dunia, harta-harta juga lenyap tak bersisa, istri-istri meninggalkan Ayyub karena tak kuat menderita, sedang Ayyub tergolek lemas dengan penyakit ganas tak ada obat. Tak berhenti sampai disitu, Ayyub dibuang ke hutan, hanya ditemani seorang istri yang setia. Penyakit itu kian parah, membuat tubuh Ayyub membusuk, tapi tak ada keluhan yang keluar dari mulut Ayyub, kecuali pujian kepada Sang Maha Kuasa.

Ayah keren, kau tahu apa permintaan Ayyub? Dia hanya minta agar "hatinya" tidak ikut membusuk karena ia tetap ingin menyembah Allah, menyebut Allah yang memberinya penyakit ganas itu. Ayyub lulus ujian, Allah memberinya ganti yang lebih baik dari kehilangan yang telah dialami.

Atau lihatlah si sosok kumal miskin yang bernama Qarun itu. Anak lorong yang sering kelaparan dan berebutan roti untuk mengganjal perut. Tiba-tiba saja, kehidupannya berubah dia menjadi kaya raya, semua bisa dimilikinya. 

Kesombongan mulai tumbuh membumi di dahan hatinya, dia mengingkari bahwa itu pemberian Tuhannya. Dia pun tenggelam bersama harta yang dibanggakan tanpa seorang pun yang menolong.

Ayah keren, yang kutahu kau pernah merasakan bagaimana sedihnya kehilangan, sakitnya dikhianati kawan dan kaupun pernah merasakan manisnya keberuntungan yang diberikan Tuhan. Jika susah membelenggumu, eratkan peganganmu jangan sampai kau terhempas. Jika senang menyapamu, eratkan peganganmu jangan sampai kau melayang kehilangan pijakan.

Saya senang bisa menyertai kisahmu, malam ini kau menceritakan kabar iman yang menggembirakan, ibadahmu kembali normal doamu pun kembali lancar. 

Ayah keren, saya tak punya materi berlebih yang bisa kuberikan, hanya secuil kepedulian dan mungkin itu membosankan. 

Pilihlah sahabat bukan karena dia bisa mengajakmu keliling dunia, tapi dia bisa mengajakmu ke jalan syurga.

Agama adalah nasehat, tak menutup kemungkinan suatu hari nanti saya akan merengek meminta dinasehati karena degradasi iman yang kualami. 

Masih banyak yang ingin saya catat, tapi bukan untuk saat ini, karena saya masih menanti kabar gembira lainnya.

No comments: