TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Hujan dan Langkah Kecil Jiwa Haraki

Hujan mengingatkanku pada sepotong episode masa lalu tentang anak-anak desa yang berlarian sambil berteriak bebas di bawah guyuran hujan, suaranya timbul tenggelam diantara derasnya hujan. Berlarian tanpa lelah yang ada hanya bahagia dan ajang mengekspresikan diri, apa adanya, tak ada rekayasa. Kaki-kaki kecil tanpa sendal menapaki jalan bebatuan, sesekali meringis saat kerikil menusuk tajam. Tubuh menggigil kedinginan dengan pakaian yang basah kuyup tidak menjadi beban, bahkan itu pelengkap kebahagiaan. Salah satu dari anak-anak itu adalah aku! Yah itu hujan ketika aku masih kanak-kanak.

Menuju remaja saat puber mulai menyapa, hujan disikapi dengan cara berbeda, tidak lagi dengan lari-larian di bawah guyuran hujan, yang ada hanya memandangi rintiknya sambil bersenandung menyanyikan lagu cinta atau lirihnya kepiluan. Hujan mengisyaratkan kegalauan yang ingin dilampiaskan. 

Beranjak dewasa saat beban hidup mulai terasa, hujan disikapi dengan beragam cara, cara paling santai dengan menghirup kopi sambil membaca koran ditemani instrumen rintik hujan yang bersahutan, atau menghilangkan lelah dengan terlelap dibuai alunan hujan dan hangatnya selimut mimpi, bagi mereka yang punya beban berat, hujan dan panas tidak ada bedanya, tetap waktu untuk bekerja keras, memeras keringat tiada henti. 

Lalu bagaimana kita menyikapi hujan? Hujan itu rahmat, di setiap tetesnya ada berkah. Nah! Menggabungkan kerja keras orang dewasa dan bahagia anak kecil adalah cara yang tepat. Kita punya beban berat di pundak, Hujan hanya membasahi tubuh kita, tidak mematahkan kaki kita untuk berhenti melangkah. Kata Anis Matta,"kita adalah partai anak muda, hujan adalah alat untuk bermain-main bukan untuk dihindari." 

Hari ini, hujan mengguyur Makassar, namun langkah kaki kami tetap menapak, menebar senyum sebagai sedekah, mengucap salam sebagai doa, menyapa sebagai silaturahim. Sambutan masyarakat pun beragam, kebanyakan mereka menerima dengan ramah, memang ada senyum yang tak terbalas, dan salam yang tak terjawab, wajah ramah bersambut dengan muram tapi itu bukan alasan untuk berhenti. Mungkin senyum kita kurang manis dan salam kita kurang ramah di hati masyarakat.

Hujan ini akan menjadi saksi, bahwa jiwa-jiwa haraki kami masih teguh tidak terampas oleh waktu. Langkah-langkah yang tidak digerakkan dengan rupiah tapi dengan besarnya cinta. Kantong kami memang tipis namun tidak dengan cinta kami. Langkah kecil dan senyum malu-malu itu tetap terekam catatan malaikat, tetaplah optimis.

Langkah-langkah kecil ini yang nantinya akan kita tulis dalam sejarah pemenangan, bahwa kita pernah berlelah disini, menyusuri jalan ini ditemani hujan. Suatu saat kita akan menceritakan pada anak cucu kita cerita romantisme ukhuwah dan heroiknya perjuangan. Tetaplah disini bersama jiwa haraki yang selalu menemani. Dakwah kan bersemi di bumi pertiwi.

1 comment:

  1. Anonymous15:59

    Keren! Catatan dari hati

    ReplyDelete