TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Episode Masram dan Ikan Teri Goreng Tepung

 
Ikan teri tepung goreng buatan Misuary

Tokoh: Munawir Syam (saya), Masram (alergi tepung), Zoel & Misuary (alergi telur), Ruslang & Johansa (korban keracunan ikan)

Malam ini Misuary beraksi di dapur, kali ini dia menggoreng ikan teri tepung, wangi nya menusuk hidung. Saya jadi teringat seorang kawanku, namanya Masram, enam tahun lalu dia sangat alergi dengan tepung. Dulu di asrama, ketika menu lauknya ikan teri goreng tepung, Masram akan sibuk memilah teri dan tepungnya. Dia mencubit ikan terinya kemudian mencabutnya dari lautan tepung.

Memang aneh kawanku yang satu ini, jika kamu menawarkan makanan yang berbahan tepung lainnya, seperti bakwan maka tanpa ragu dia memakannya sampai habis bahkan minta tambah, tapi bibirnya tidak akan menyentuh tepung yang tercampur ikan teri. Aneh bukan? Namun Allah Maha Adil, di antara kawanku, alhamdulillah ada yang bersedia memakan hasil pilahan tepung dan ikan teri dari Masram. Dan setiap tiba waktu makan dan menunya ikan teri tepung maka dengan sigap kawanku itu duduk manis didekat Masram, bahkan kadang membantu Masram mencabut teri itu dari tepungnya. Romantis bukan? 

Namun masalah alergi itu tidak berlangsung lama, saat ini Masram akan menghantam makanan apa saja yang ada di depannya, asalkan itu halal dan baik. Alergi ikan teri tepung itu sudah hilang, dia sudah bisa memakannya tanpa beban. Mungkin ini dampak dari masa-masa peralihan dulu, awalnya kami tinggal di asrama, makanan kami ditanggung tiga kali sehari, tidur kami nyaman dengan ranjang bertingkat lengkap dengan kasurnya, kamar kami nyaman lengkap dengan kipas anginnya. Tetapi belakangan kami harus mencoba hidup mandiri, luntang lantung kemana-mana mencari jati diri. Kadang kami kehabisan beras (hiks hiks), lauk tidak pernah terganti, perut kami jarang tersentuh sayur dan aneka macam penderitaan lainnya. Mungkin itulah yang dijadikan momentum kebangkitan oleh Masram untuk menyukai ikan teri tepung, ikan teri tepung adalah makanan mewah untuk saat itu.

Lamunanku tentang kisah hidup Masram yang penuh dengan luka-luka dan menghiris hati itu buyar ketika Misuary keluar dari dapur, mulutnya sedang mengunyah sepotong ikan teri goreng tepung itu, keluar asap halus dari mulutnya. Akupun dengan sigap melompat menuju dapur, mengambil sepotong lalu melumatnya. Hem laziiz!

Saya mencoba menyusun kembali puzzle dan merangkainya menjadi kisah utuh dengan tema "alergi lauk". Tema itu mengingatkanku pada sosok temanku yang hitam mungil, sekarang dia sudah nun jauh disana. Namanya Zoel, dia alergi telur rebus, sebenarnya bukan alergi tapi "tidak suka" saja. Dan saya lah orang yang setia mendampinginya ketika menu lauknya adalah telur rebus. Tapi jangan coba-coba dekat dengan Zoel saat menu lauknya telur goreng, dari telur dadar sampai telur mata sapi akan diembatnya. Alerginya khusus telur rebus.

Misuary juga pernah alergi telur, dan itu benar-benar alergi, tubuhnya akan gatal ketika mengkonsumsi makanan berbahan telur, apapun itu. Tapi itu tadi, alergi itu hilang bersama waktu. Saat ini Misuary juga sudah tidak alergi dengan telur. Seperti Masram, Misuary pernah merasakan masa peralihan itu.

Puzzle yang kususun ternyata tidak hanya soal alergi, memoriku menjelajah kepada dua kawanku yang pernah keracunan ikan cakalang. Korban pertama bernama Ruslan, dia keracunan ikan cakalang goreng, Ruslan muntah-muntah, kepalanya pening tak tertahan dan saat itu air kelapa tidak mempan sebagai penawarnya. Tidak berselang lama, setelah Ruslan keracunan, kami ikut-ikutan mogok makan lauk ketika menunya ikan cakalang. Tapi moment itu dimanfaatkan seorang temanku yang bernama Johansa, karena banyak ikan yang tersisa maka dia dengan senang hati menghabiskan ikan itu dengan lahap dan alhasil dunia hampir saja berduka. Saat itu jam menunjukkan 00.30 dini hari, Johansa menggigil, matanya merah, di kelapanya terpasang slayer warna orange. Dan Johansa terkapar selama dua hari dan tidak kuliah selama 1 minggu.

Lamunanku kembali terhenti ketika Misuary datang membawa sepiring ikan teri goreng tepung yang masih hangat, asap masih menggepul seksi. Ah lebih baik saya menyantap ikan teri goreng tepung tanpa nasi itu daripada harus larut dalam kisah sedih itu. Hehe

5 comments:

  1. ayas11:13

    entah siapa korban berikutnya.... hati2.... hahaha

    ReplyDelete
  2. haha... siap2 ente selanjutnya.... curhatan cinta pertamamu Yas.

    ReplyDelete
  3. awi angkat juga kisah hidupku.....banyak juga yg seru lo

    ReplyDelete
  4. yang bagian mana yang seru itu? pertikaian antara ente sama salafi di muhajirin? hahaha

    ReplyDelete
  5. Awiii...dassar... hahaha

    kusuka na ini tulisann...

    ReplyDelete