Episode Hujan Petang ini

Sejak sore, langit sudah menampakkan suasana mendung, awan hitam berkumpul menghalangi sinar matahari sore. Yah beberapa pekan terakhir, Langit di kota daeng sering dihiasi mendung tapi kadang juga cerah ceria.

Alhasil, saat suara adzan berkumandang bersahut-sahutan dari berbagai menara mesjid, butiran air dari langitpun mulai berjatuhan, dari balik jendela kaca saya menatap aktivitas di luar rumah, jalan raya masih ramai dengan lalu lalang kendaraan. Beberapa pengendara motor berhenti, membuka bagasi motor, mengambil jas hujan dan memakainya kemudian melanjutkan perjalanan. Adapula pengendara motor yang berhenti berteduh di emperan ruko, namun tak sedikit pengendara motor yang menorobos hujan, dia tidak peduli dengan hujan yang mulai menderas. Sedang pengendara mobil dengan tenang di atas kendaraannya, seorang anak kecil membuka kaca jendela dan tersenyum menatap hujan, tangan mungilnya ia keluarkan, menangkap butiran hujan seperti menangkap seekor kupu-kupu. Aku tersenyum menatapnya masih dari balik jendela kaca.

Suara adzan lambat laun menghilang, dan berganti dengan sahutan iqamat, aku menghela nafas, bimbang, apakah harus ke mesjid atau shalat di rumah saja. Untuk ke mesjid butuh waktu 1 sampai 2 menit, tanpa payung dan jas hujan saya pastikan akan basah kuyup. Maka kuputuskan untuk sholat di rumah saja, kugelar sajadah kemudian tenggelam dalam ibadah tiga rakaat itu.
>>>

"Aja muabbosi-bosi, malasako matu'" Kalimat itu membuatku tersenyum setelah sholat magrib, itu nasehat ibu setiap kali turun hujan, yah sekitar 20 tahun yang lalu. Saat ini, masihkah kita menyikapi hujan seperti waktu kecil dulu? Hujan adalah cara mandi paling bahagia. Yah tidak jauh beda dengan anak kecil di mobil tadi, yang menangkap butiran hujan dengan jari mungilnya.

Saat ini umur sudah berkepala dua, cara merespon hujan pun sangat jauh berbeda dengan waktu kecil dulu. Bagi anak kecil, hujan selalu menjadi sahabat untuk bermain, berlarian dan berteriak keras di bawah guyuran hujan adalah hal yang sangat menyenangkan, walaupun harus membuat orang tua naik pitam karena takut anaknya sakit. Namun semakin dewasa, kadang hujan menjadi suatu penghalang, kita menyikapinya dengan muka masam dan keluhan. Ah... Padahal hujan itu berkah, hujan itu tidak boleh dicela karena ia ciptaan Tuhan.
>>>
Saya kembali mendekati jendela, hujan masih deras, saya melihat pengendara motor yang singgah berteduh di emperan ruko semakin banyak, situasi itu dimanfaatkan tukang bakso untuk mendekat. Ah pasti menyenangkan jika bisa makan bakso saat hujan begini. Allah sebaik-baik pengatur.

Hujan kadang mengingatkan kita kepada orang-orang yang patut kita rindukan, dari balik jendela kaca itu saya tidak lagi memperhatikan aktivitas di luar sana, tapi satu per satu wajah yang patut dirindukan itu hadir dalam ingatanku, seolah-olah mereka sedang di depanku. Ah waktu seperti ini sangat tepat untuk mengabadikan cinta mereka dan mengikatnya dengan lafadz rabithah.

Comments