TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Kado Milad untuk pahlawan kemanusiaan

Politik untuk Kemanusiaan Bukan Sekedar Slogan

Hari ini tepat 52 tahun usianya, di usia yang setengah abad itu dia telah banyak menorehkan karya dan cinta untuk orang di sekitarnya, baik yang dia kenal maupun yang tidak dikenalnya. sebuah ekspresi kepedulian yang tak mengharap balasan, semua karena Allah dan alasan kemanusiaan. Saya mengenal sosoknya cukup dekat dalam dua bulan terakhir ini, sejak saya menjadi tim media untuk meliput aktivitasnya sebagai kandidat calon walikota di kota Anging Mammiri ini. Sejak dua bulan itu saya mengenalnya sebagai sosok yang peduli dan bersahaja, kepedulian itu bisa saya buktikan dengan kesaksian orang disekitarnya, orang yang pernah dia bantu dan sikapnya kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan. Dia juga adalah sosok yang bersahaja yang kadang saya tidak habis pikir bahwa seorang yang menjabat pimpinan banggar akan melakukan hal yang seperti itu, seperti jajan makanan tradisional di pasar, memakai pakaian yang dihadiahkan oleh para pekerja terminal, pekerja buruh dan kaki lima. Kesan elitis yang selama ini digambarkan oleh media hancur lebur, dia adalah sosok yang humanis.

Saya mulai mengerti bahwa slogan “Politik untuk Kemanusiaan” yang selama ini dipopulerkan oleh Tamsil Linrung bukan sekedar slogan atau hanya slogan pencitraan tanpa kerja nyata. slogan itu sudah menjadi ruh dan mendarah daging bagi putra kelahiran Pangkep tersebut, slogan itu menjadi motivasinya sebagai politisi dan tokoh nasional. untuk kemanusiaan.

Banyak ungkapan cinta dari mereka yang pernah dibantu oleh Tamsil Linrung, contohnya seperti satu keluarga di Antang, Makassar yang memajang foto keluarga Tamsil di ruang tamunya, saat ditanya alasannya, mereka menjawab bahwa itu adalah salah satu ungkapan cinta atas segala kepedulian keluarga Tamsil selama ini. Pernah juga seseorang datang memberi hadiah lukisan kepada Tamsil, ternyata lukisan itu adalah ungkapan cinta dan terima kasih atas bantuan Tamsil saat istri pelukis tersebut hendak melahirkan dan butuh biaya. Atau sepasang suami istri yang memberi nama anaknya Muhammad Tamsil dengan alasan mereka terinspirasi sifat kepedulian Tamsil Linrung, dan masih banyak kisah lain yang saya saksikan selama dua bulan terakhir. Seperti ketika matanya berkaca-kaca saat mendengar curhatan seorang ibu tua di pinggiran kanal, ibu tua itu menceritakan nasibnya hidup sebatang kara tanpa suami dan anak, dia hanya numpang di rumah tetangga.

Tamsil juga adalah sosok yang dermawan, dia mempunyai motto “Saya tidak pernah merasa miskin untuk berbagi” dan saya pun menjadi saksi atas sifat dermawannya, dia selalu membantu mereka yang membutuhkan. Seperti baru-baru dia menyumbang untuk rakyat mesir sebesar 66 juta dari kas pribadinya.

Selama dua bulan, saya banyak belajar tentang kepedulian, arti sebuah keikhlasan dan ketegasan. Tamsil tidak pernah mengumbar dan mengungkit pemberiannya, itulah mengapa Allah memberinya kejutan-kejutan lewat ungkapan cinta dari mereka yang pernah dibantu.

Selamat milad pahlawan kemanusiaan, semoga Allah selalu membersamai perjuanganmu untuk mewujudkan Makassar kota enak, nyaman dan aman.

No comments: