Generasi yang Hilang

Entah kapan, saya lupa waktunya. Tapi kejadian ini terjadi sekitar seminggu yang lalu. Sebuah pemandangan memilukan yang terjadi di negeri ini. Kejadian itu membuatku mengurut dada.

Malam itu, sekitar jam 11 malam saya singgah di sebuah mini market untuk membeli beberapa bahan makanan untuk sarapan besok pagi. Mata saya disambut dengan pemandangan yang paling saya tidak suka. Orang lagi merokok! Saya paling tidak suka dengan aktivitas itu, karena bukan hanya berbahaya bagi perokok aktif tapi juga yang masif. Orang yang lagi merokok didepanku adalah anak-anak, saya taksir usianya baru 10 tahunan. dengan PD dia mengisap rokok kemudian menghembuskan asapnya, terlihat begitu ahli. anak itu masih duduk di bangku sekolah dasar, itu bisa saya tebak dari pakaian kumal yang dia pakai, celana merah hati sampai lutut plus baju olahraga yang bertuliskan nama sekolahnya. disampingnya tampil seorang tukang parkir illegal memberikan contoh yang kurang ajar, dia juga menghisap rokoknya dengan santai. Oke! Jika para perokok berdalih bahwa merorok adalah hak pribadi, silahkan! Tapi telan asapnya dan jangan menularkan kepada anak-anak.

Alhasil, saya tidak jadi masuk ke mini market tersebut, saya memilih mencari mini market lain dan berharap tidak mendapati pemandangan yang mengerikan seperti itu.

Kemana orang tua anak itu? kenapa dia membiarkan anaknya masih terlantar di ambang larut malam seperti malam itu. Apakah dia tidak merasa khawatir dengan anaknya yang belum pulang? Apakah dia tidak khawatir dengan maraknya aksi kriminal yang terjadi belakangan ini? Dimana peran orang tua? Saya yakin ayah anak itu masih hidup dengan mendengar obrolannya dengan si tukang parkir, sempat terlontar dari mulut sang anak kata “paceku” yang berarti ayahku.

Dalam perjalanan, saya kembali mengingat masa kecilku, yang kadang nakal dengan mencuri rokok yang ada ruang tamu. Bukan untuk menghisapnya, tapi sekedar untuk menjilat puntun rokok yang terasa manis itu. Setelah menjilatnya dan merasa puas saya kembalikan ke tempat semula. Ayahku dulu biasa merokok, tapi tidak kecanduan. Dia kadang merokok ketika menemani tamu yang juga merorok, dan Alhamdulillah saat ini ayah sudah berhenti total.

Ah! Saya tidak pernah punya pikiran untuk jadi perokok, ayah juga selalu menasehati kalau rokok itu tidak baik untuk kesehatan. Semoga saja bisa istiqamah dengan keputusan ini.

Nah kembali ke anak kecil tadi, sebenarnya ini bukan sesuatu yang baru di negeri ini. Saya pun sering melihat anak sekolah dengan PD mengisap rokok di pinggiran jalan. Mungkin agar mereka terlihat sebagai laki-laki utuh. Ah generasi bangsa ini, kebanyakan generai yang hilang identitas dirinya. Ini adalah PR bagi kita semua, tidak baik hanya mencela kegelapan tanpa menyalakan lentera untuk menerangi gelap.

Comments