in Memoriam Adin Syeikhuddin

Melihat jasad yang terbujur kaku tanpa gerak dan tidak ada nafas membuat air mata berlompatan, seolah tidak percaya kak Adin telah meninggalkan kita semua, tidak akan kembali lagi. Hanya “Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun” yang terucap lirih saat itu. Gemetar, tentu saja. Hanya bisa menggigit bibir untuk mengimbangi rasa sesak yang menjalar di sekujur tubuh, sosok pendiam yang baik hati itu telah kembali menghadap Sang Pencipta dengan membawa seluruh kebaikannya. Istigfar bekali-kali terucap untuk menguatkan diri sendiri. Allah Akbar. Sesak sangat sesak! Ruangan sempit itu seolah menghimpit, isak tangispun membahana di langit-langit ruangan.
Respon teman-teman semakin membuatku sesak, banyak yang menelpon dengan suara tangis yang menyayat adapula yang merasa tidak percaya. “Bercandaki’ to
h kak? Bercandaki’.” “Saya tidak percaya kak, secepat itu kah?” “Janganki’ bercanda kak…. Ka’ Adiiiiiiin” Kurang lebih seperti itu sms teman-teman. Yah itulah ajal, datang tepat waktu dengan kondisi yang kadang kita tidak percayai. Tapi yang jelasnya, saya tidak bercanda, kak Adin telah pergi. Dan memori pun berputar dengan cepat, ternyata kak Adin sosok pendiam itu orangnya sangat perhatian, sosok yang bertanggung jawab.
_____
2003-2006
Sosok yang pendiam dan berkacamata itu menjadi guru bahasa inggris pertama saat masuk ke pesantren Darul Istiqamah Sinjai, orangnya tegas mungkin karena dia adalah alumni Darussalam Gontor yang aturannya sangat ketat. Kami semua memanggilnya ustad Adin dan dia memanggil kami dengan panggilan “nak”. Walaupun kak Adin saat itu adalah guru dan kami murid, namun dia tidak segan untuk berbaur saat malam tiba sekedar untuk bercerita, bercerita tentang segala hal. Ketika bertemu kak Adin selalu melempar senyum. Selama tiga tahun, 2003-2006 saya mengenalnya. Kak Adin mengabdikan diri di pesantren. Namun 2006-2009 kami putus komunikasi karena saya tidak di pondok lagi.

Januari 2010
Saya janjian ketemu kak Adin di kampus Al-Azhar Makassar, sekitar jam 10 siang di tengah terik saya menunggu kak Adin di pinggir jalan raya karena beliau belum pernah ke kampus Al-Azhar sebelumnya, 1 jam berlalu tapi kak Adin belum datang juga padahal tadi katanya sudah dekat, ternyata beliau nyasar sampai di kampus STIBA.
Kak Adin sengaja datang menemui saya di kampus disela-sela waktu liputannya sebagai wartawan di tribun timur hanya untuk membicarakan tentang alumni. Setelah beberapa kali diskusi via chating, membicarakan banyak hal tentang alumni, maka kami putuskan untuk bertemu untuk membicarakan langsung tindak lanjut dari diskusi online kami. Dari diskusi kecil kami waktu itulah lahir forum alumni yang sekarang bernama FOSKADI.
Februari 2010
Kak Adin mengundang semua alumni Darul Istiqamah Sinjai yang stay di Makassar untuk bertemu dan diskusi di warkop maccora, di depan UIN. Disinilah awal keseriusan alumni untuk mengembangkan forum alumni, saat itu belum ada nama untuk forumnya. Dari diskusi ke diskusi, kak Adin selalu mendampingi kami, seperti diskusi di mesjid Telkom. Kak Adin adalah pendengar yang setia, kakak yang perhatian di balik sifat cueknya.
_____
16 November 2012
Kak Adin telah pergi, banyak air mata yang tumpah. Alumni berkumpul di rumah duka untuk melihat wajah kak Adin untuk terakhir kalinya. Mata sembab mengenang semua jasanya, jasanya akan selalu hidup di hati kami. Guruku selamat jalan…. Semoga Allah menempatkanmu di syurgaNya.

Comments