TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Bentakan Buat Bunda

Siang ini, matahari tidak menyengat seperti hari sebelumnya. Bahkan langit sejak pagi mulai menumpahkan airnya, akupun memilih untuk berdiam diri di dalam kamar sembari mengerjakan tugas yang seharusnya kuselesaikan di kantor. Di temani dengan segelas coklat hangat aku mulai bergumul dengan data yang sungguh membuat kepala puyeng. Namun tiba-tiba aktivitasku terhenti karena ada suara yang mengusikku. Suara itu berasal dari kamar sebelah.

“Lebih baik saya tidak punya orang tua dari pada hidupku tersiksa begini, dia bukan anakta’ kenapa dia kita bela!” Suara itu meraung-raung dan terdengar suara pintu yang ditendang-tendang. Praak praak! Aku kaget dalam diam, kuberanjak ke arah pintu untuk memastikan apa yang terjadi. “Buka pintunya bundaaa....” Teriak anak itu lagi.

Sebut saja namanya Dinda, berusia 8 tahun dan baru menginjak kelas 2 SD. Kesehariannya dia adalah pemalu, dia semata wayang  dari ibu kost ku. Tidak kusangka kalimat kasar seperti itu bisa keluar dari mulutnya, mungkin itu akibat dari sinetron atau program TV yang sering dia tonton selama ini ataukah ada sebab lain, bisa saja karena pergaulan. Ah tidak mungkin, keseharian Dinda hanya bergelut di depan TV sehabis pulang sekolah, aku tidak pernah melihatnya bermain dengan teman sebaya nya. Dia selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar.

Ketika aku keluar kamar, kudapati ibu Dinda sedang duduk di beranda tepat di depan kamarnya, menyadari kehadiranku dia tersenyum walaupun sedikit agak dipaksakan. Mungkin saja dia sedih dengan ucapan dinda. Lebih baik tidak punya orang tua? Allah, anak sekecil itu bisa berkata seperti itu. 

Ah ternyata Dinda lagi bertengkar dengan sepupunya yang bertamu di rumahnya hari ini, sepupunya sudah beberapa kali menangis gara-gara Dinda. Ibunya sering membela sepupunya itu, maka Dinda mulai jengkel dan berulah, makanya dia dikurung dalam kamar. Akhirnya keluarlah kalimat itu. 

Dinda semakin menggila, menendang pintu dan dinding kamar yang terbuat dari tripleks untung saja kaki kecilnya tidak menyebabkan pintu rusak. Mulutnya pun semakin gila membentak ibunya. 

“Dinda, tidak boleh berkata seperti itu kepada bunda!” Aku mencoba mengingatkan.

“Ahh! Diam!! Bunda nda sayang Dinda!” Kembali dia membentak sembari kakinya menendang pintu. Aku kaget dan mundur.

“Sudah, nanti diam sendiri.” Kata ibu Dinda menepuk pundakku, dia masih saja tersenyum. Namun bisa kutebak ada luka di hatinya, namun sebagai seorang ibu dia bisa memaklumi anaknya.

Siang ini, aku mendengar bentakan anak kecil kepada bundanya. Bentakan yang memekakkan telingaku. Aku geram! Tidak pantas seorang anak seperti itu, namun ibu Dinda mengatakan “Saat kamu jadi orang tua, rasa marahmu akan dikalahkan dengan rasa cintamu kepada anak.” Katanya sembari senyum. Lalu kami lebih memilih berbincang daripada memperhatikan Dinda yang lagi mengamuk. 30 menit kemudian, suara Dinda hilang, tidak ada lagi tendangan kakinya yang terdengar. Ketika pintu dibuka, kami mendapati Dinda sedang tertidur pulas, mungkin dia kecapean. Sang bunda langsung menggendongnya ke tempat tidur seraya mendaratkan 1 ciuman di kening anaknya. Ah! Hari ini aku belajar tentang cinta, cinta orang tua kepada anaknya adalah cinta yang luar biasa.Tidak bisa tergantikan dengan apapun.

Memoriku kembali berputar ke masa kecilku, apakah aku pernah mengatakan apa yang dikatakan Dinda? Apakah aku pernah melukai hati bunda? Entahlah, aku sudah lupa. Yang jelasnya kuingat beberapa kali aku melakukan aksi diam ketika tidak suka dengan sesuatu, orang tuaku sibuk membujuk agar aku tidak seperti itu, namun sering aku tepis bujukan mereka. Ah pasti saat itu mereka sakit hati. 

Makassar, 18 Maret 2012

No comments: