TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Angkuhku...

Makassar masih diguyur hujan deras disertai angin kencang saat kupacu motorku di tengah larut malam, jalanan Makassar sudah sepi dari kendaraan, mungkin semuanya sudah terlelap di balik selimut tebal, atau sedang ngopi untuk menghangatkan badan. Aku sendiri baru saja pulang dari sebuah warkop, menikmati coklat hangat untuk menghangatkan badanku. Di perapatan jalan Pettarani dan Urip Sumoharjo, aku menghentikan motor karena lampu merah menyala, mataku kurasa perih diterpa air hujan, tubuhku menggigil dibalik mantel yang kukenakan. 

Aku terhenyak melihat sosok bertubuh kecil dan kerdil sedang kedinginan, dia menawarkan koran kepadaku yang kujawab dengan gelengan kepala. Yah siapa yang mau beli koran ketika larut malam begini? Lagian saya sudah baca 4 koran hari ini, aku merasa tidak tertinggal informasi. Anak itu masih berdiri di dekatku namun tidak lagi menawarkan koran, matanya menatap kosong pada beberapa pengendara yang juga berhenti karena lampu merah. 

“Kenapa belum pulang de’?” Tanyaku dengan suara keras karena hujan begitu deras.
“Takut sama mama, korannya belum laku.” Katanya dengan suara lirih, belum lagi kujawab namun klakson sudah menggema, ternyata lampu hijau sudah menyala. Akupun kembali memacu roda duaku. 

Allah, begitu tega diriku meninggalkan anak itu tanpa membeli korannya, atau setidaknya aku memberi sedikit sedekah karena hari ini aku belum bersedekah. Dadaku terasa sesak, ada niat ingin kembali ke tempat itu namun hujan semakin deras, angin juga semakin menggila. Allah... Dimana anak itu akan tidur? Tidakkah dia merasa dingin karena tubuhnya kuyup? Banyak pertanyaan yang merasuki pikiranku dalam perjalanan pulang.

Ah lihatlah diriku, jiwaku sudah tidak peduli lagi dengan sesama. Siapa aku? Di kampung halaman sana, ayah dan ibu selalu mengajariku berbagi dan peduli kepada kaum lemah walaupun kondisi kami tidak mapan, karena memang untuk berbagi tidak harus menjadi orang mapan. Siapa aku? Apakah aku sudah tertular penyakit orang kota, yang individualismenya tinggi? Siapa aku???!!!

Langit terus saja menumpahkan tangisnya, sedang dari ujung mataku keluar air bening. Allah maafkan hambaMu. 

Kembali kuteringat anak itu, kecil dan kurus sedang basah kuyup di larut malam. Kemana dia akan bermalam? 

Makassar, 19 Maret 2012
Pukul 23.30

No comments: