Kenangan Sarung Biru


Pagi masih prematur, belum ada kicauan burung dan sinar mentari pagi yang menyapa. Hanya hawa dingin yang masih tersisa membuat diri ingin kembali menarik selimut untuk tidur sejenak, menyambung mimpi malam yang belum sempurna. Namun hati kecilku mencegah, tidur pagi tidak baik untuk kesehatan, dan pastinya ibu akan mengomel jika mendapatiku tidur pagi lagi. Ah… kupaksakan mata untuk tetap terjaga.
Iseng aku membuka lemari, tempat pakaian lamaku tersimpan. Ada segunjing senyum yang bisa mengusir ngantuk saat melihat pakaian itu. Memang tidak sebanyak dulu lagi karena sebagian sudah disumbangkan buat korban bencana, namun masih ada yang tersisa. Dan yang tersisa inilah yang membuat aku tersenyum, yang tersisa inilah yang mempunyai banyak kenangan.
Di lipatan paling atas bertengger selembar sarung berwarna biru, melihatnya membawa memoriku kembali lima tahun silam. Di saat seorang sahabat memberiku sebuah kenang-kenangan berupa sarung. Yah sarung biru itu, waktu itu, sengaja aku meminta sarung biru itu karena sarung itu identik dengan dirinya. Mungkin dengan sarung ini, aku akan selalu mengingat kebaikan dan kesholehannya.
Buat sahabatku, Asyrafurrijal. Sarung biru itu masih tersimpan sebagaimana masih tersimpan memori keakraban kita di ma’had dulu. Sarung ini akan kembali kupakai untuk sholat, semoga pahalanya juga terbagi untukmu. J

Comments