Namanya Imam Talebo

Namanya imam Talebo, orang yang pertama kali berkenalan denganku di mesjid Nurul Falaq, Mamuju Utara, tempat KKNku. Orangnya sepuh namun masih matanya masih jernih melihat. Pertama bertemu, imam Talebo sangat senang setelah aku mengutarakan maksud dan tujuanku menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Maka dengan suara bass yang menjadi cirinya dia mengutarakan semua harapannya, harapan yang tidak muluk muluk, hanya ingin ada regenerasi di kampungnya. Cuma itu. 

Imam Talebo, orang kuanggap sebagai kakek. Dimana pertama kali aku merasakan menjadi cucu. Memang aku dulu punya kakek dan nenek, namun mereka menghadap Sang Pencipta ketika aku masih belajar berjalan, wajahnya pun tidak aku kenali. Dan disini, perasaan ini tumbuh. Rasa iri kepada teman teman sejak dulu ketika mereka menceritakan tentang kasih sayang kakek dan neneknya kini telah terobati. Memang menakjubkan kasih sayang seorang kakek. Bukan begitu?

Imam Talebo, dia adalah sepuh satu kampung. Umurnya kini diambang pintu satu abad. Umurnya Sembilan puluh tiga tahun. Setiap kali bertemu, kembali dengan suara bassnya dia menerawang, kapan malakul maut akan menjemputnya. Karena menurutnya apa yang dia jalani sekarang hanyalah bonus dari yang Maha Cinta. 

Mamuju, 03 Ramadhan 1432

Comments