Fulan, Aku Bingung

Awalnya saya tidak berminat tentang ini, apalagi sesaat fokus dalam memperhatikan kehidupan si fulan, karena memang bukan urusanku. namun denyutan gendang telinga yang menarikku ke ruangan ini. Sidia berteriak tentang ketidak adilan, dia menyebut nama fulan! Hatiku mencoba meraba ketidak adilan yang mana yang dimaksudkan? Tanpa berusaha keras jawaban itu kembali kudapat, jawaban itu yang menghampiriku. Katanya si fulan tidak adil dalam bergaul dengan mereka, ada yang diemaskan adapula yang tidak dihiraukan. Berbeda dengan sikap Rasulullah yang walaupun berbeda dalam memperlakukan sahabat, namun semua merasa tersanjung ketika berada didekat Rasulullah. Semuanya merasa diperhatikan. Ah! Aku tersenyum, memang bedalah antara si fulan dan Rasulullah. Rasullah ma’shum dan si fulan tentunya banyak khilafnya. Dan yang membuat aku tersenyum lebih lama sampai sedikit tergelak, ah ternyata teman-temanku ini lagi butuh perhatian. Hihihi

Ada lagi, katanya si fulan ini sering keceplosan. Dan akhirnya mengatakan sesuatu yang seharusnya dirahasiakan. “Ah dia yang melarang kita membocorkannya kepada yang lain, ternyata dia sendiri yang membocorkannya.” Ungkap orang didekatku dengan sewot, sepertinya dia hanya mengeluarkan uneg-uneg nya, bukan bermaksud untuk menggibah. Aku menanggapinya dengan “ehm ehm” saja. Namun untuk yang satu ini aku akui, si fulan memang kadang begitu, kalau sudah begitu bikin tidak enak hati. Bikin gemes!

Masih banyak tentang si fulan, ada ini ada itu. Aku hanya mau bilang. Tetap husnudzon sama seseorang. Saran juga buat si fulan, sapalah orang dengan wajah riangmu tiap kali bertemu, jangan sampai raut wajah membuat orang tersinggung. bukankah Rasulullah pernah ditegur oleh Allah karena bermuka masam? perlakukan mereka dengan cara yang mereka suka, jangan memperlakukan mereka dengan cara yang kamu suka. Ah!

Comments