Bijak Menyikapi Perbedaan



Jika kamu merasa besar, periksa hatimu

Mungkin ia sedang bengkak

Jika kau merasa suci, periksa jiwamu

Mungkin putihnya nanah dari luka nurani

Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu

Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan

Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu

Mungkin ia asap dari amal shalihmu yang hangus terbakar riya

(Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah)


Tepuk tangan menggema di Baruga Andi Pettarani Universitas Hasanuddin ketika sepenggel kutipan dari buku Dalam dekapan Ukhuwah dibacakan oleh moderator. Disampingnya duduk penulis buku tersebut dengan tersenyum simpul. Ini adalah kali kedua aku mengikuti bedah buku karya Salim A. Fillah, setelah sebelumnya mengikuti bedah buku Jalan Cinta Para Pejuang.


Kutipan tadi menyadarkanku akan kekeliruan dalam berpikir dan bersikap selama ini, terutama aku yang berkecimpung di dunia harakah. Ketika diri merasa lebih baik dari yang lain, setiap hari dipenuhi perdebatan yang melelahkan dan saling memojokkan. Ketika harakah dakwah berbeda kadang kita sinis ketika bertemu, tidak seide menjadi sekat dalam bergerak, ada hijab yang sejalan dengan ego. Semua terasa beda, sangat berbeda.


>>>>


Sore yang menggelisahkan, ketika perdebatan kembali membuat suasana jadi tegang. Muka mulai memerah, nada suara meninggi tidak terkendali, nafas menjadi sesak dan emosi sudah menguasai. Dia menganggap aku salah dan begitu pula sebaliknya, perkataannya menyudutkanku dan perkataanku melukainya. Semua karena perbedaan yang tidak disikapi dengan bijak dan dewasa.


Kali ini, aku dan seorang temanku kembali berdebat, memang organisasi dakwah yang kami ikuti berbeda dan cara bergeraknya juga beda. Itulah yang menjadi titik perdebatan kami. Hampir setiap pertemuan selalu diwarnai dengan perdebatan, tidak hanya di dunia nyata, tapi merembes sampai ke dunia maya. Tidak hanya lewat tatap muka namun lewat SMS kami pun sering berdebat. Pernah kami memperdebatkan masalah haramnya musik, memanjangkan kain celana, ikut pemilihan umum dan sekelumit permasalahan lainnya.


Padahal sebelumnya, kami adalah teman yang akrab, namun perbedaan yang tidak disikapi dengan bijak itu merubah semuanya. Kadang perbedaan kostum saja menjadi polemik yang luar biasa. Sungguh kami orang baru mengenal dakwah, semangat kami mengalahkan tegarnya karang, maka wajar jika kami masih kekanak-kanakan dalam berbeda.


Dalam bukunya, Salim A. Fillah memberikan contoh menyikapi perbedaan secara bijak dan dewasa. Bagaimana para sahabat Rasulullah yang merangkai ukhuwah yang indah diantara perbedaan itu. Karakter yang berbeda menjadikan ukhuwah mereka makin kokoh. Semuanya jadi indah jika disikapi dengan bijak.


Thalhah pernah berseteru dengan Ali bin Abi Thalib disebabkan Ali tidak menindak pelaku pembunuhan Utsman ibn Affan. Bahkan istri kesayangan Rasulullah ikut dalam perseteruan itu. Dan pada puncaknya kedua kubu ini akan bertemu di peperangan. Namun karena persaudaraan mereka yang kuat bisa mengalahkan segalanya.


“Aku sangat rindu padamu saudaraku.” Kata Ali kepada Thalhah, jiwa keduanya langsung mencair, air mata pun jatuh dari pelupuk dan mereka berdekapan. Mereka dipersatukan dalam dekapan ukhuwah. Amarah pun mereda disejukkan oleh air ukhuwah. Subhanallah, dapatkah kita seperti itu? Sedang hal sepele saja membuat hati kita beku untuk saling menyapa. Saling menyalahkan atas sesuatu yang bahkan ulama masih berbeda pendapat atasnya.


>>>>


Buku Dalam Dekapan Ukhuwah yang diterbitkan oleh Pro-U media ini kulahap habis dalam dua hari. Ada cara berpikir dan bersikap baru yang kudapati, terutama dalam menyikapi perbedaan, khususnya perbedaan antar aktivis harakah. Jujur saja, ini menjadi masalah di lapangan ketika kita menganggap bahwa aktivis dari harakah lain adalah lawan, padahal mereka adalah mitra kita. Kita sama-sama membawa panji islam, ada cita agung dalam setiap gerakan kita, hanya saja caranya yang berbeda. Ada dengan cara konsentrasi dalam membersihkan tauhid dan memberantas bid’ah, ada yang konsentrasi dalam penegakan syariat dengan khilafah, adapula yang menggunakan wasilah politik untuk mencapai tujuannya.


Aku tersadar, alangkah bodohnya aku selama ini. Terlalu mudah ukhuwah kita dirusak oleh hal sepele. Maka setelah membaca buku itu, aku berpikir untuk menghadiahkan buku tersebut kepada temanku yang selama ini sering berdebat denganku, teman yang sering kulukai perasaannya.


Karena saat itu kantong lagi kering, maka untuk membeli buku itu aku meminjam uang kepada seorang teman. Ada harapan yang mendalam, semoga setelah membaca buku Dalam Dekapan Ukhuwah, temanku terbuka pemikirannya untuk juga bijak dalam berbeda.


>>>>


Sore yang mendebarkan, saat kutapaki lorong sempit menuju rumah temanku itu. Jantungku berdetak dengan cepat, antara senang dan was-was, senang karena akan bertemu dengannya dan was-was karena takut perdebatan akan dimulai lagi. Tapi bismillah, niatku baik ingin silaturahim. Semoga niat baik itu disambut dengan baik. “Assalamu’alaikum. Apa kabar saudaraku? lama tidak bertemu denganmu.” Kuulangi kata itu selama perjalanan, itulah adalah kata pembuka ketika bertemu dia nanti.


Manusia hanya bisa berencana dan berusaha namun Allah juga punya rencana. Sore itu, aku mendapati rumah temanku kosong. Maka aku menitipkan buku itu pada tetangganya, kutulis note di dalam bungkusan, “Assalamu’alaikum. Apa kabar saudaraku? Lama tidak bertemu denganmu. Kuhadiahkan buku ini untukmu, semoga bermanfaat.” kucantumkan namaku disana.


>>>>


Sebulah telah berlalu, semenjak kuhadiahkan buku itu kepada temanku hingga saat ini belum ada kabar yang kuterima. Mungkinkah dia terima hadiah dariku itu atau tidak? Entahlah! Karena setelah itu aku tidak pernah ke rumahnya lagi disebabkan banyak kegiatan yang sangat menyita waktu.


Aku juga tidak pernah mengirim SMS kepadanya untuk sekedar bertanya bagaimana kabarnya, karena HP ku rusak, dan nomornya tersave di memori telepon. Semuanya jadi buram, apakah sudah terlalu jauh perdebatan mengikis ukhuwah kami? Semoga tidak demikian. Rasulku yang selalu kurindu mewanti-wanti kita untuk menghindari perdebatan karena bisa mengeraskan hati. Astagfirullah


>>>>


Sore yang membahagiakan. Saya tidak berharap lagi bahwa temanku itu akan menyapa kembali. Saat itu aku tengah berbaring di kamar melepas lelah karena kegiatan hari ini sangat padat. HP ku berdering nyaring, ada SMS yang masuk.


“Assalamu’alaikum, apa kabar saudaraku? Lama tidak bertemu denganmu. Ana uhibbuka fillah akhy.”


SMS itu membuatku haru, ini SMS dari temanku. Subhanallah, lelah yang sedari tadi mendera langsung hilang setelah membaca pesan singkat itu. Alhamdulillah…


>>>


Saatnya perbedaan menjadikan kita lebih kokoh, kita ini adalah bunga di taman. Berbeda warna namun itulah sumber keindahannya. Perbedaan adalah rahmat, ketika perbedaan tetap mempersatukan jiwa kita dalam dekapan ukhuwah. Masih terlalu banyak persamaan kita dibanding perbedaan yang ada. Bukan begitu?


Jazakallah kepada penulis buku Dalam Dekapan Ukhuwah, Bang Salim semoga selalu ada cinta dihatimu dan mampu menebarkan cinta kepada sesama. Allah selalu melindungimu saudaraku.

>>>>>


Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

Comments