Kerikil itu Menjadi Bumbu

Tak selamanya ukhuwah diungkapkan dengan kata indah dan laku lembut. Kadang dia harus diungkapkan dengan amarah. Seperti itulah yang terjadi dalam ukhuwah kita.
Sore itu, kulihat wajahmu memerah menahan kekecewaan, matamu menatapku tajam, tatapan yang pertama kalinya kudapatkan darimu. Lalu dengan kata singkatmu aku seolah terjatuh. Aku pun marah, walau tidak kuungkapkan dengan tatapan tajam dan kata-kata. Aku hanya diam, dan diam itu adalah ekspresi marahku. Kamu pun pergi masih dengan desahan amarah!
Kerikil itu terasa sangat tajam, membuat pilu semua persendian.
Malam mulai menyelimuti raga, pikiranku melayang pada kejadian tadi sore, ada penyesalan yang merasuki dan menyimpulkan bahwa akulah yang bersalah dan aku harus meminta maaf. Kuniatkan meminta maaf pada keesokan harinya, insya Allah.
Setelah sedikit bermunajat di sepertiga malam, aku kembali menekuni deretan ayat cinta Ilahi. Namun terhenti ketika suara klakson mobil terdengar di depan rumah, kuintip lewat jendela, sebuah mobil berwarna silver parkir di depan rumah, kukenal mobil itu! Ah ada apa lagi?
Hpku berdenyit, kuangkat! "Ayo turun ndi', kita sahur bareng." itu kata yang kudengar. Ah ukhuwah karena Allah memang selalu berakhir indah!
Dan kembali kucatat tentang keluhuranmu! Saudaraku!

Comments