Kefakiran vs Kekufuran

Seorang wanita tua renta mengagetkanku ketika aku menonton TV di rumah, tanpa salam tanpa izin kini dia sudah berdiri di ruang tengah dengan nafas yang terburu-buru. Tentu saja aku kaget, apalagi posisiku dalam keadaan santai di rumah.
Perempuan tua itu lalu duduk di lantai, masih ngos-ngosan dan keringat membasahi wajahnya. "magai tuh ne' " tanyaku dalam bahasa bugis. "engka malai doi'ku di dompe'ku' denre'" Jawabnya lancar dengan ekspesi wajah yang ditekuk, sangat tidak menyenangkan. Nenek tua itu memang masih keluarga, walaupun keluarga jauh. Tadi pagi dia memang singgah di rumah sewaktu pulang dari pasar. Dan katanya waktu singgah tadi, dia meletakkan dompetnya di ruang tamu, dan ternyata setelah dia pulang dia baru sadar bahwa uang di dompetnya berkurang. Dari 30 ribu menjadi 10 ribu. Jadi hilang 20 ribu. "pasti engka minnaui keddi" nenek tua itu memvonis bahwa ada yang mencuri uangnya di rumah ini, akupun langsung tersudut, bagaimana tidak! Di rumah ini hanya keluarga kami waktu dia datang, jadi secara tidak langsung dia menuduh ada diantara keluarga kami yang mencuri uangnya. Dongkol mulai bercokol, di rumah kami tidak ada yang berani mengambil barang tanpa izin. Nenek tua itu terus mengoceh menyesalkan pencurian uangnya yang katanya terjadi di rumahku.
Setelah ocehannya reda, aku menjelaskan bahwa di rumah ini tidak ada pencuri, kalaupun uangnya hilang disini maka pencurinya bukan orang dalam. Tapi pagi itu tidak ada tamu yang lain di rumah kami. So?
Dia kemudian menjelaskan tentang keadaannya, kemiskinannya, bahkan dia rela berjalan 20 kilo meter untuk kembali mencari uangnya yang katanya hilang, jumlahnya 20 ribu rupiah. Yah memang jarak antara rumahku dan rumahnya cukup jauh, 20 KM. Melewati pendakian, jalan berbatu dan menyebrangi sungai.
Karena sudah tidak tahan mendengar ocehannya yang menyudutkan, akupun menggantikan uangnya yang katanya hilang, setelah itu dia pulang. Tapi aku memberi dia kata kunci, bahwa tidak ada dari kami yang mencuri uangnya.
Untung saja waktu dia datang, mama tidak ada di rumah, karena kalau ada pasti akan terjadi perang dunia ketiga. Ham!
Setelah mama pulang, semuanya terkuak! Tadi si nenek mengaku bahwa dompetnya diletakkan di atas kursi di ruang tamu, padahal ternyata dompetnya tidak pernah lepas dari tangannya bahkan ketika dia dijamu di ruang makan. Ha! Dia menipuku, bukan masalah nilai uangnya, tapi sifat penipunya yang kusesalkan.
Yah sedikit banyak aku tahu tentang dirinya, dia adalah janda tua yang hidup dalam kemiskinan, dia menjadi single parent buat anak-anaknya. Tapi kenapa kemiskinan membuat dia buta? Bahkan menipu dengan cara licik dan memalukan. Ya Allah!

Comments