Aku dan Mister Jack

Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya bus yang akan kutumpangi ke Tana Toraja memberi tanda akan berangkat. Akupun langsung naik bus dan mencari nomor kursi. Ah nomor 20. Aku melirik nomor kursi di dekatku, nomor 19 masih kosong. Semoga ada yang ngisi, supaya ada teman ngobrol sampai ke Toraja karena Toraja kan jauh seekaaaaliii.....

Beberapa bule masuk bus, dan kelihatan mencari tempat duduk mereka. 4 cowok dan 2 cewek, salah satu diantaranya tersenyum melihat nomor kursi 19, gila kan? Masa’ tersenyum sama kursi. Ah... kenapa yang menempati kursi 19 adalah seorang bule? Tetap tidak bisa ngobrol dong, karena saya tidak tahu bahasa inggris. Hem...,

“hay...” Bule itu menyapaku sebelum dia duduk.
“Hay..” Jawabku
Setelah itu diam saja, dan bus sudah berjalan meninggalkan perwakilannya. Bule disebelahku terlihat sibuk dengan dirinya sendiri, ah.. mungkin benar kata orang, orang barat itu individualismenya tinggi. Tapi dugaanku ternyata salah....
“My name is Jack, I am from Australia.” Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku.
“Oww..hem my name is Awie.”
“A..W..I...E..” Jack mengeja namaku, sambil nyengir
“Yes. Can I call you Mr. Jack?”
“Yes..”
Dan karena saya tidak tahu bahasa inggris, maka percakapan kami menggunakan bahasa alis. Hehe seru juga..., seperti halnya ketika Mr. Jack menyalakan I-pod nya, dia ingin berbagi headset kepada saya. Akupun menerimanya dengan senang hati. Walaupun sudah kutahu bahwa lagunya sudah pasti lagu barat, lagu yang kurang kusuka, karena tidak tahu artinya.
Bus terus melaju, akupun terserang ngantuk maka aku member kode kepada Mr. Jack sebagai tanda aku izin untuk tidur. Dan diapun mengizinkan. Namun aku terbangun ketika bus sudah memasuki daerah barru disebabkan Mr. Jack mencabut headset yang masih menempel di telingaku.

“I am sorry, lowbet.” Katanya sambil mengangkat I-podnya “sorry.”
Aku hanya tersenyum, dan mengeluarkan HP dan headsetku. Lalu menawarkan ke Mr. Jack. Diapun menyambut dengan senang hati.
“But Islamic Song” Kata pelan
“Are U a Moslem?”
“Yes I am a Moslem.”

Tapi Mr. Jack tetap ingin mendengarnya, walaupun lagu islami. Hem dan untuk membuat Mr. Jack tenang maka aku pilih beberapa lagu soundtrack film terkeren zaman doloe sampai sekarang... hehehe.. aku pilih lagu yang ngerock, soundtrack film kesukaanku sewaktu kecil dulu. WIRO SABLENG.... dan waow Mr. Jack sangat suka, dia berteriak kecil sambil memukul pahanya.. haha... lucu juga orang ini... setelah Wiro Sableng aku pilih sandiwara TUTUR TINULAR yang berdurasi 4 menit, aku melihat mr. Jack bergidik mendengar bunyi pedang dan suara kaki kuda Arya Kamandanu... Pedang Naga Puspaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.. setelah itu kupilih lagunya Yuni Shara soundtrack dari film PENDEKAR RAJAWALI.... dan itu yang kembali membuat mata mengantuk, tapi mr. Jack masih menikmatinya... dan mataku semakin redup ketika tembang Gelas-gelas kaca milik Nia Daniati disusul tembang Deru Debu milik almarhumah Nika Ardilla.... Tidur ah...

Kembali kuterbangun ketika memasuki daerah Enrekang, dan subhanallah yang terdengar di telingaku adalah surah Al Muzzammil milik Muhammad Toha. Dan Mr. Jack hanya terpaku didekatku.

“Mr jack..” mendengar suaraku Mr. Jack kaget “I am Sorry” Kataku lagi. Dia hanya tersenyum. Dia hanya menepuk pundakku, “I like it.” Katanya.

Perjalanan yang lama ke Toraja banyak memberi kesan, terutama dengan Mr. Jack. Ketika jam 3 subuh, kami pun makan sahur bersama, Mr. Jack merasa sangat senang. Ah... andai saja aku mahir berbahasa inggris pasti aku akan menceritakan kepada Mr. Jack tentang indahnya Islam, atau mendengar celotehannya tentang tetangganya yang seorang muslim. Ah... islam itu indah Mr. Jack. Dia sendiri adalah seorang laki-laki yang berumur 21 tahun, Kristen KTP. Baru terasa pentingnya memahami beberapa bahasa, karena itu untuk mempermudah. Mr. Jack semoga masih ada pertemuan yang lain.

Comments