Pemuda Penjaga Izzah

“Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.” (Yusuf 33) Sepenggal perkataan Yusuf yang diabadikan oleh Allah dalam al-qur’an. Kata yang seolah menyihir semua orang, kata yang keluar dari mulut seorang pemuda tampan yang dirayu oleh seorang wanita cantik yang mencintainya dengan cinta yang menggebu. Sepenggal kisah yang menggemparkan, Zulaikha menjadi bumbu dalam kisah perjalanan Yusuf, datang menguji keimanan lelaki saleh itu. Kisah perjalanan Yusuf memang membuat kita kagum, segala cobaan hidup telah dia lewati, tanpa satupun yang membuatnya ingkar kepada Tuhannya. Sehingga kisah yang disertai dengan pertarungan politik, kekuasaan, konflik keluarga, cinta dan asmara menjadi kisah terbaik, ahsanul qisash di dalam Al-qur’an. Prestasi besar seorang pemuda bernama Yusuf ‘alaihi salam. Pemuda yang bisa menjaga izzah diri ketika gelombang syahwat berkecamuk seperti perang uhud, Izzah tetap dijunjung tinggi, tidak menukarnya dengan kesenangan yang semu, dengan syahwat yang menggebu. Jiwa mudanya yang menggelora dapat dia kuasai dan kontrol karena dia lebih mengutamakan pahala dari Allah. Dan itulah salah satu prestasi nabi Yusuf As.

Lalu bagaimana dengan kita saat ini, adakah percikan kisah nabi Yusuf bisa menjadi pedoman dalam kehidupan kita? Disaat nafsu dan syahwat dengan mudahnya diumbar dan dilampiaskan, kapanpun dan dimanapun? Masihkah lidah kita mampu untuk mengatakan seperti kata yang pernah dilontarkan oleh Yusuf, ataukah lidah kita keluh dan terbawa arus syaitani? Naudzu billah! Kawan, semakin jauh melangkah maka cobaan juga akan semakin banyak, iman yang susah payah kita bangun dan jaga seumpama pohon yang sedang tumbuh, semakin tinggi pohon tersebut maka semakin banyak angin yang menyapa, kadang angin sepoi dan membuat pohon terbelai, kadang angin kencang yang membuat pohon bergoyang tidak karuan, bahkan kadang angin badai yang bisa membuat pohon tumbang. Kuatkan akarnya, supaya bisa menahan badai, tidak tumbang oleh tragedi zaman yang selalu menghadang. Tingkatkan kekebalan iman, supaya iman tetap imun, sehingga bisa menangkal virus maksiat, termasuk virus merah jambu di kalangan aktivis. yang bisa menjadikan aktivis futur karena virus merah jambu, itu bukan prestasi, kawan! Tapi bencana. Tandanya iman kita tidak sehat.
Engkau yang menamakan dirimu sebagai aktivis dakwah, yang amanah dakwah memberat di pundakmu, yang kata dakwah selalu keluar dari bibirmu, yang katamu seluruh gerakmu adalah dakwah, yang katamu hidupmu telah kau wakafkan untuk dakwah, yang siap mati di jalan dakwah. Untukmu para aktivis dakwah, teruslah perbaiki diri, bersihkan diri dari perbuatan dosa sekecil apapun, jaga izzah diri dan agama di depan orang yang tidak senang dengan islam. Karena tidak mungkin dakwah akan berhasil jikalau para pengembannya saja adalah seorang fajir (pendosa).
Berdo’alah kawan! Semoga Allah menguatkan pancang kaki kita untuk tetap istiqamah di jalanNya, jadilah orang yang bisa menjaga izzah diri, jangan nodai izzahmu dengan menuruti arus syahwat yang bisa menularkan virus syaithani. Jangan menggadaikan izzah dengan kata cinta, karena cinta itu menjaga izzah seorang muslim bukan malah menodai.



Comments