TERBARU

recentposts

Ukhuwah

[ukhuwah][twocolumns]

Resensi Film

[Resensi Film][twocolumns]

BUMI AZHAR

[bumi azhar][twocolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Aksi Perempuan Senja Buat Palestina

Nek sa’diah namanya. Perempuan di usianya yang senja, 60 tahun masih menyempatkan ikut aksi munasarah untuk Palestina yang dilangsungkan di depan monument Mandala. Dia begitu bersemangat, cucuran keringat membasahi wajahnya di bawah terik, namun dia tidak mundur, dia tetap ikut bertakbir bersama ribuan massa yang lain. Kagum, jelas saja saya kagum melihatnya. Nek Sa’diah kembali muda dengan letupan semangat yang menembus angkasa. Subhanallah!

Dia hanya perantau di pulau Sulawesi, sudah enam tahun dia bermukim disini menyatu dengan penduduk asli. Perempuan senja asal surabaya itu sekarang tinggal di sebuah panti asuhan di kabupaten Gowa. Bersama rombongannya dia ke Makassar untuk mengikuti aksi munasarah ini.
Terik matahari serasa menyengat ketika ribuan peserta munasarah melakukan longmarch. tidak kusangka nek Sa’diah juga ikut rombongan, dengan badan yang sedikit membungkuk sambil menggandeng anak kecil umur empat tahunan dia mengikuti perjalanan peserta munasarah. Kulihat jalannya tertatih, namun dia mencoba untuk menguatkan langkah, dia menggenggam tangan anak yang sedang digandengnya dengan erat, seolah dia menularkan semangat pembelaan untuk rakyat Palestina kepada sang anak. Aku mengikutinya dari belakang, sambil sesekali memotretnya.
Sekitar dua ratus meter perjalanan, jalannya semakin lemah. kulihat dia sedikit meringis. Beberapa ummahat mengantarnya ke tepi jalan dan menyarankannya untuk berhenti saja, namun nek Sa’diah enggan, dia ingin ikut bersama peserta munasarah. dia ingin ikut merasakan panasnya terik, ini sebagai aksi solidaritas kepada saudara seiman di Palestina. tapi kondisinya untuk berjalan tidak memungkinkan, maka para ummahat memanggil tukang becak untuk mengantar nek Sa’diah mengikuti longmarc. Kulihat mukanya pias, nek Sa’diah sangat ingin berjalan kaki bukan naik becak. mungkin dia merasakan bagaimana penderitaan wanita Palestina, ketakutan yang menghantui mereka dan maut yang setiap waktu mengincar.
Longmarch berakhir, nek Sa’diah menepi di tepi jalan, dengan wajah yang begitu lelah dia menghembuskan nafas. Aku menghampirinya... Dia menyambutku dengan hangat, dan mempersilahkanku duduk disebelahnya, setelah berbasa-basi, akupun mulai bertanya kepadanya.
“Nek, kenapa tidak istirahat saja? Pasti nenek capek berjalan kaki tadi.” Kataku kepadanya, tidak ada jawaban yang kuterima. Nek Sa’diah hanya menunduk menatap tanah, aku menatapnya dan menyadari wajahnya begitu mendung, dan jawaban yang kudapat hanya tangisan. Nek Sa’diah terguncang dalam tangis. Dan dengan bibir bergetar dia berkata,
“Ini untuk palestina, mereka butuh dukungan kita.” Katanya sambil mengusap air bening yang membanjir. Aku tergugu, ada perasaan sesak didadaku, haru menyeruak, namun kubendung. Nek Sa’diah masih terus menangis, dia menangis. Anak kecil yang tadi bersamanya hanya memandangnya dengan diam, mungkin dia belum mengerti apa-apa.
Wahai saudaraku di Palestina sana! Nek Sa’diah mendukungmu, dia tidak merelakan sejengkal tanah di palestina di rampas oleh zionis Israel. Baginya satu nyawa orang palestina lebih berharga daripada semua nyawa orang yahudi dan antek-anteknya. Bukan Cuma satu nek Sa’diah yang mendukungmu disini, ada jutaan orang sepertinya. Dan kami pun mendukungmu dengan sepenuh dukungan. Tetaplah tegar dan mujahadah, Allah bersama kita semua dan kemenangan bersama kebenaran. Untukmu rakyat Palestina.



No comments: